17
Jun
10

Konsep Walimah (pesta pernikahan) dalam Islam untuk pengantin Muslim

Resepsi pernikahan atau walimah merupakan tradisi yang telah diajarkan Rasulullah SAW kepada umatnya. Perintah untuk menggelar walimah disampaikan Nabi Muhammad SAW ketika putrinya, Fatimah RA dipinang Ali bin Abi Thalib RA. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya pada perkawinan harus diadakan walimah”.

Walimah adalah perayaan pesta yang diadakan dalam kesempatan pernikahan. Dikarenakan pernikahan menurut Islam adalah sebuah kontrak yang serius dan juga momen yang sangat membahagiakan dalam kehidupan seseorang maka dianjurkan untuk mengadakan sebuah pesta perayaan pernikahan dan membagi kebahagiaan itu dengan orang lain seperti dengan para kerabat, teman-teman ataupun bagi mereka yang kurang mampu. Dan pesta perayaan pernikahan itu juga sebagai rasa syukur kepada Allah SWT atas segala nikmat yang telah Dia berikan kepada kita. Disamping itu walimah juga memiliki fungsi lainnya yaitu mengumumkan kepada khalayak ramai tentang pernikahan itu sendiri. Hikmah mengumumkan pernikahan adalah mempopulerkan di kalangan manusia untuk mencegah kecurigaan/keraguan terhadap pasangan suami isteri tersebut. Juga untuk menampakkan nikmat Allah pada manusia dengan dihalalkannya yang haram dan diharamkannya yang halal disebabkan ikatan pernikahan tersebut. Sudah maklum bahwa ikatan perkawinan itu menghalalkan isteri bagi suami dan mengharamkan bagi suami ibu mertuanya dan bagi isteri bapak mertuanya. Tidak ada cara lain yang lebih baik melainkan melalui pesta pernikahan yang bisa dinikmati oleh orang banyak. Yang bertanggungjawab atas pelaksanaan walimah berdasarkan hadits, kewajiban utama untuk mengadakan walimah ada di pihak laki-laki. Namun jika suami-isteri atau orangtua/wali sepakat untuk membagi beban biaya pengadaan walimah sesuai dengan adat istiadat yang berlaku di daerah mereka maka hal itu tidak bertentangan dengan syariat Islam.

Kita tahu bahwa adat di berbagai suku/bangsa berbeda-beda. Seringkali saling bertentangan. Maka, jika Islam disesuaikan dengan adat, akan terjadi kerancuan tentang mana sesungguhnya yang merupakan hukum Islam. Sebagai orang Islam, kita terikat dengan hukum-hukum Islam, kapan pun dan dimana pun. Termasuk saat pesta pernikahan. Tidak ada pengecualian. jika ada adat yang tidak sesuai dengan Islam, maka adat tersebut harus disesuaikan dengan Islam. Jika memang tidak bisa disesuaikan, maka adat tersebut harus ditinggalkan. Jadi, sikap menyesuaikan adat dengan Islam adalah tepat. Sementara sikap menyesuaikan Islam dengan adat adalah salah. Dengan demikian, anda boleh melanggar perintah orang tua jika perintahnya bertentangan dengan perintah Allah. Anda tidak berdosa. Kewajiban anda adalah memberitahu (mendakwahi) orang tua tentang syariat Islam yang belum mereka pahami. Tentu harus dilakukan dengan cara-cara yang ma’ruf sehingga sebisa mungkin tidak melukai hati/perasaan orang tua. Biasanya orang tua khawatir jika pesta pernikahan anaknya berbeda dengan adat, maka akan mendapatkan cibiran dan gunjingan dari masyarakat sekitar. Walaupun orang tua sudah tahu aturan Islam, kekhawatiran terhadap respon masyarakat sekitar masih sering terjadi.

Di era sekarang ini, resepsi pernikahan diselenggarakan umat Muslim dengan beragam cara. Ada yang menggelar walimah secara sederhana di rumah dan ada pula yang melakukan walimah di gedung bahkan hingga di hotel berbintang lima yang menghabiskan dana sampai puluhan miliar rupiah. Agar sebuah walimah atau resepsi pernikahan tak terjerembab ke dalam perkara yang dilarang, ajaran Islam telah menetapkan adab dalam menyelenggarakan walimah. Syekh Abdul Aziz bin Fathi as-Sayyid Nada dalam Mausuu’atul Aadaab al-Islaamiyyah, mengungkapkan, adab atau tata cara walimah atau resepsi pernikahan berdasarkan syariat Islam.

  1. Pertama, kata Syekh as-Sayyid Nada, hendaknya sebuah walimah diselenggarakan dengan niat yang benar. “Niatkan walimah itu sebagai sunah Rasulullah SAW dan memberi makan orang-orang,” tutur nya. Sesuatu yang diniatkan dengan baik akan menjadi amal saleh. Sehingga, harta yang dibelanjakan dan waktu yang diluangkan akan diganti dengan pahala.
  2. Kedua, membuat dan menyediakan hidangan yang sesuai dengan kemampuan. Menurut Syekh as Sayyid Nada, seseorang tuan rumah tak perlu memberatkan diri di luar batas kemampuannya untuk menyediakan hidangan bagi para undangan. Kesederhanaan dalam menyelenggarakan walimah telah dicontohkan Rasulullah SAW. Ketika memiliki rezeki, Rasulullah SAW menyembelih kambing sebagai sumber hidangan. Namun, saat tak memiliki apa-apa, walimah pun digelar sesuai kemampuan. Semua contoh berwalimah sesuai kemampuan itu dijelaskan dalam hadis. Diriwayatkan dari Anas bin Malik RA, ia berkata, “Aku melihat Rasulullah SAW mengadakan walimah untuk Zainab, yang tidak pernah diadakan untuk istri-istri beliau lainnya, dan beliau menyembelih seekor kambing.” Namun, saat mengadakan walimah dengan Shafiyyah binti Huyay RA, Rasulullah SAW tak menyembelih apapun. Menurut Anas RA, Nabi SAW pernah menginap tiga hari di suatu tempat antara Khabir dan Madinah untuk menyelenggarakan perkawinan dengan Shafiyah. Rasulullah SAW lalu mengundang kaum Muslimin untuk menghadiri walimahnya. Dalam walimah itu para undangan tak disuguhi roti maupun daging. Hidangan yang disajikan bagi para tamu undangan hanyalah kurma kering, gandum dan minyak samin. Hal ini dijarkan Rasullah untuk menghindarkan umat Islam terjerat dari utang, karena memaksakan diri mengadakan walimah di luar batas kemampuan.
  3. Ketiga, seorang Muslim yang mengadakan walimah hendaknya mengundang karib kerabat, tetangga dan rekan-rekan seagama. Menurut Syekh as-Sayyid Nada, mengundang karib kerabat dalam acara walimah akan mempererat tali silaturahim. Sedangkan, mengundang tetangga dapat mendatangkan kebaikan. “Selain itu, mengundang rekan-rekan seagama akan melanggengkan kasih sayang dan menambah rasa cinta,” papar ulama terkemuka itu.
  4. Keempat, Rasulullah SAW mengingatkan agar seorang Muslim tak hanya mengundang orang-orang kaya saja. Nabi menekankan agar saat walimah orang miskin pun harus diundang. Syekh as-Sayyid Nada, menuturkan, meninggalkan atau melupakan orang miskin dari sebuah walimah bukanlah ajaran Islam. Mengabaikan orang-orang miskin, kata dia, dapat mematahkan hati mereka. Sehingga, mereka yang mengadakan walimah namun mengabaikan orang miskin dicap Islam sebagai orang-orang yang sombong. Bahkan, hidangan walimah yang mengabaikan orang fakir dan miskin disebut Nabi SAW sebagai makanan paling buruk. Rasulullah SAW bersabda, “Seburuk-buruknya hidangan adalah makanan walimah, yang diundang untuk menghadirinya hanyalah orang-orang kaya, sedangkan orang-orang fakir tidak diundang…” (HR Bukhari-Muslim). Mengenai kado, Anda boleh saja menghadiri acara walimah tanpa membawa kado atau uang. Memang untuk menghindar dari adat-istiadat itu sulit sekali. Di beberapa daerah, bahkan, kebiasaan memberikan kado atau uang hampir menjadi utang-piutang. Yang mempunyai hajat sudah tamak lebih dulu, bahwa dia akan mendapat banyak sumbangan dari hadirin. Para hadirin pun demikian rasanya tidak bisa hadir tanpa memberikan sumbangan, entah berupa kado atau uang. Tentu seperti itu sudah melenceng dari maksud disyari’atkannya walimah. Orang mengadakan walimah menjadi tidak ikhlas, walimah tidak lagi murni menjadi refleksi rasa syukur, namun tersimpan harapan lain, ingin mendapat sumbangan dari para tetangga dan handai tolan. Seandainya mau tak hadir, jelas tak enak, karena merasa berhutang, kawan yang mengundangnya pernah datang ke walimahnya dan membawa sumbangan. Serba repot memang. Tapi seperti itu, bagaimanapun, harus diingat, adalah kebiasaan-kebiasaan yg tidak baik. Apapun yang tak tulus itu tidak baik.
  5. Kelima, Rasulullah mengajarkan agar sebuah acara walimah tak diselenggarakan secara berlebih-lebihan. Dalam Alquran surat al-A’raaf, Allah SWT berfirman, “… Dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” Saat ini, kata Syekh as-Sayyid Nada, begitu banyak orang yang menggelar walimah secara berlebih-lebihan. Bahkan ada yang menggelar walimah sampai menghabiskan uang berpuluh bahkan ratusan miliar rupiah. “Berbangga-bangga dan pamer di hadapan manusia untuk menjaga kedudukan dan gengsi, merupakan bentuk mengkufuri nikmat Allah SWT,” paparnya. Alangkah baiknya, jika kelebihan itu diberikan kepada mereka yang membutuhkan.
  6. Keenam, sebuah acara walimah tak boleh berisi perkara munkar. Menurut dia, jika undangan sebuah walimah berisi perkara-perkara munkar, maka wajib bagi yang diundang untuk tidak menghadirinya. Dibolehkan pula memeriahkan perkawinan dengan nyanyi-nyanyian dan menabuh rebana (bukan musik) dengan syarat lagu yang dinyanyikan tidak bertentangan dengan ahklaq seperti yang diriwayatkan dalam hadits berikut ini: Dari Aisyah bahwasanya ia mengarak seorang wanita menemui seorang pria Anshar. Nabi shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: “Wahai Aisyah,mengapa kalian tidak menyuguhkan hiburan? Karena kaum Anshar senangpada hiburan.” (HR. Bukhari 9/184-185 dan Al-Hakim 2/184, danAl-Baihaqi 7/288). Sang suami boleh bersikap toleran kepada para wanita dalam proses walimatul ’urusy untuk mengumumkan pesta pernikahan dengan memukul rebana, atau dengan lantunan lagu-lagu yang mubah, dimana di dalamnya tidak terkandung promosi kecantikan, lagu dengan syair cinta yang mendayu-dayu, atau lagu dangdut yang enerjik dengan ungkapan yang vulgar, dan tidak pula untaian kata-kata yang jorok. Dalam hal ini banyak hadits Nabi saw yang menjelaskannya diantaranya: Ada dua faedah yang terkandung di dalamnya yaitu untuk Publikasi (mengumumkan) pernikahan dan untuk Menghibur kedua mempelai.
  7. Ketujuh, wajib mendatangi undangan bagi yang diundang. Rasulullah SAW bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian diundang ke walimah, hendaklah ia mendatanginya.” (HR Bukhari dan Muslim). Memenuhi undangan walimah hukumnya wajib, meskipun orang yang diundang sedang berpuasa. “Jika kalian diundang walimah, sambutlah undangan itu (baik undangan perkawinan atau yanglainnya). Barangsiapa yang tidak menyambut undangan itu berarti ia telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Bukhari 9/198, Muslim 4/152, dan Ahmad no. 6337 dan Al-Baihaqi 7/262 dari Ibnu Umar). Rasulullah SAW menjadikannya satu dari enam kewajiban sesama Muslim. Akan tetapi tidak wajib menghadiri undangan yang didalamnya terdapat maksiat kepada Allah Taala dan Rasul-Nya, kecuali dengan maksud akan merubah atau menggagalkannya. Jika telah terlanjur hadir, tetapi tidak mampu untuk merubah atau menggagalkannya maka wajib meninggalkan tempat itu.

Walimah (undangan makan) Salah satu bagian yang sakral dalam perjalanan kehidupan umat manusia. Yang terpenting dari itu semua adalah diperolehnya doa-doa selamat dari orang-orang yang diundang. Kita pun kalau hadir seharusnya dalam rangka dan niat mendoakan juga untuk mengucapkan selamat kepada kedua mempelai. Bagi orang yang menghadiri undangan walimah, dianjurkan melaksanakan dua hal berikut ini

Pertama: setelah acara berakhir, dianjurkan berdo’a untuk tuan rumah dengan redaksi do’a yang bersumber dari Nabi saw. Do’a-do’a untuk ini, banyak diantaranya ialah ”ALLAAHUMMAGHFIR LAHUM WARHAMHUM, WABAARIK LAHUM FIIMAA RAZAKTAHUM (Ya Allah, ampunilah (dosa-dosa) mereka dan rahmatilah mereka, serta limpahkanlah barakah untuk mereka pada apa yang telah Engkau karuniakan kepada mereka.” (Shahih Mukhtashar Muslim no:1316, Muslim III:1615 no:2042, ’Aunul Ma’bud X:195 no:3711).

“ALLAHUMMA ATH’IMMAN ATH’MAN ATH’AMANII, WASQIMAN SAQAANII (Ya Allah, berilah makan orang yang telah memberikan makan dan berilah minum bagi orang yang memberiku minum).” (Shahih Musmil III:1630 no:2055)

“AKALA THA’AAMAKUMUL ABRAARU WA SHALLAT’ALAIKUMUL MALAA-IKATU, WA AFTHARA ‘INDAKUMUSH SHAA-IMUUNA (Orang-orang yang berbakti dengan tulus telah menyantap makananmu, para malaikat telah berdo’a untuk kamu, dan mereka yang berpuasa (sunnah) telah berbuka di (rumah)mu.” (Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir no:1226 dan ‘Aunul Ma’bud X:333 no:3836).

Kedua: Berdo’a, memohon barakah dan kebaikan untuk tuan rumah dan juga isterinya, sebagaimana yang disinggung dalam pembahasan ucapan tahni-ah dalam pernikahan.

Rasulullah SAW. bersabda : “Seburuk-buruk kalian, adalah yang tidak menikah, dan sehina-hina mayat kalian, adalah yang tidak menikah” (HR. Bukhari). “Barang siapa yang menikahi seorang wanita karena kemuliaannya, maka Allah tidak akan menambahkan kepadanya selain dari pada kehinaan. Barangsiapa menikah karena hartanya, maka Allah tidak akan menambahkan kepadanya selain dari pada kemiskinan, barang siapa menikah karena kedudukannya, maka Allah tidak akan menambahkan kepadanya selain dari pada kerendahan. Dan barang siapa menikahi seorang wanita hanya karena ia menginginkan dengan wanita itu untuk menjaga pandangannya, memelihara kemaluannya atau menyambungkan ikatan kekeluargaannya, maka Allah akan memberkahinya pada wanita itu dan akan memberkahi wanita itu padanya.” ( HR. Ath-Thabrani )

Semoga Allah menghimpun yang terserak dari keduanya, memberkahi mereka berdua, dan kiranya Allah meningkatkan kualitas keturunan mereka, menjadikannya pembuka pintu-pintu rahmat serta pemberi rasa aman bagi umat. Amin (doa Nabi pada pernikahan putrinya fatimah az-zahra dengan ali bin abi thalib)

Temukan informasi lainnya mengenai Minang, Padang, Sumatera Barat, perkawinan adat minangkabau, Foto Pengantin, Foto Prewedding, Photo Pernikahan, Fotografi Pernikahan, Photo Wedding, Fotografi Wedding, Foto Pernikahan, Foto Wedding hanya di Foto Pengantin & Prewedding: Photo Pernikahan & Fotografi Wedding, foto perkawinan, wedding photo, paket foto, fotografer pernikahan, wedding photographer, pre wedding photographer, Minang Wedding, Pre Wedding photography & Wedding Party photography Padang – Sumbar, Padang wedding, Wedding Gallery & Event Organizer, Pre Wedding Photography, pre wedding, pre wedding photographer, pre wedding photography, wedding vendors, Pre Wedding Photography, Pre Wedding Foto, Foto Pra Nikah Foto, Paket Wedding, hasil foto, bentuk foto, ukuran foto, photo pre wedding di…

Wen’S Photography
Digital Photo Studio & Video Shooting
Jl. Gajah Mada No.30 Gunung Pangilun Padang
Hp 08126764527, Telp 07519901204
http://wensphotography.at.ua
http://wensphotography.blogspot.com
https://wensphotography.wordpress.com

13
Jun
10

Tips Memilih Fotografer dan Videografer

PERNIKAHAN adalah moment terindah yang dinantikan semua insan dalam kehidupan mereka. Rangkaian pesta resepsi Anda meninggalkan sejuta kenangan yang pastinya tidak akan Anda lupakan seumur hidup Anda. Foto atau pun video merupakan hal terakhir dan bahkan satu-satunya yang tersisa untuk mengenang perhelatan akbar tersebut. Untuk itu, sudah menjadi tradisi bagi sepasang pengantin yang ingin mengabadikan saat-saat penuh arti di hari pernikahan dalam bentuk foto maupun video. Karena itu, memilih fotografer dan videografer menjadi hal tersendiri yang harus Anda pertimbangkan. Tapi jangan sampai Anda salah dalam memilih jasa fotografer agar Anda tidak kecewa akan hasilnya nanti.  Sebuah foto yang bagus tentu diperoleh dari hasil jepretan jitu sang fotografer handal. Oleh karena itu keahliannya dalam mengabadikan saat-saat bahagia tersebut sangat diperlukan untuk memberikan hasil yang terbaik.


Saat ini memang banyak berdiri provider yang menawarkan jasa di bidang fotografi dan menjanjikan harga – harga yang murah serta paket – paket yang berkesan untuk memudahkan dan menguntungkan pihak calon pengantin.  Bahkan ada photographer yang saling menjatuhkan dengan merekayasa cerita sampai mencuri karya photographer lain, untuk itu ada beberapa tips untuk Anda para calon pengantin yang tentunya ingin bila dokumentasi hari bersejarah anda akan tidak akan terlewatkan begitu saja melainkan menjadi kenangan yang terindah lewat album foto pernikahan anda dengan foto yang menarik dan berkualitas:

  1. Tidak semua fotografer memiliki kemampuan yang sama, terkadang beberapa di antara mereka adalah fotografer amatiran yang hanya meyewakan jasa semata tanpa memiliki kemahiran dalam bidang fotografi. Jadi jangan sekali-kali menyamakan kemampuan fotografer, karena setiap fotografer pastinya punya kemampuan atau skill yang berbeda.
  2. Paket dengan harga mahal bukan jaminan bahwa Anda akan mendapat kualitas baik. Kualitas karya fotografi tidak melulu dikaitkan dengan besarnya biaya yang harus dikeluarkan. Jika Anda bijak memilih, syukur-syukur kalau Anda juga mengetahui setidaknya sedikit hal dasar mengenai fotografi Anda akan lebih jeli mencari photos studio atau fotografer yang tidak membuat budget pernikahan Anda di luar batas. Jika harga yang ditawarkan ternyata di bawah rata-rata, biasanya tidak memberikan banyak fasilitas, sehingga akan berdampak pada kualitas hasil foto yang dihasilkan.
  3. Pastikan Anda mengetahui benar hasil karyanya dengan bertanya pada keluarga atau teman yang telah memakai jasa art photographer studio tersebut. Lihat Portfolio/contoh proyek yang pernah ditangani fotografer tersebut.
  4. Tak hanya mengandalkan moment bahagia. Seorang fotografer yang andal pastinya tidak hanya menangkap moment bahagia dan mengabadikannya. Fotografer yang andal pastinya memiliki seni artistik yang tinggi sehingga hasil yang didapat lebih bernilai dan tidak hanya menghasilkan foto pernikahan semata, tanpa ada cerita dan makna di balik perayaan pernikahan Anda.
  5. Chemistry dan kesepahaman antara Anda, pasangan, dan sang fotografer wedding studio harus dibangun dulu sebelum pemotretan dilakukan. Ini juga berguna untuk mengetahui gaya yang sesuai untuk Anda dan pasangan (wedding photos).
  6. Beberapa tahun yang lalu, sebelum internet popular di Indonesia, memang sulit untuk mencari fotografer yang pas dengan selera kita. Seringkali orang memilih fotografer hanya berdasarkan rekomendasi orang lain, membeli paket all in one (Paket foto, catering, bridal, dll) atau melihat nama besar seorang fotografer yang padahal karyanya belum tentu cocok dengan selera kita masing-masing. Dengan adanya Internet, saat ini kita semua bisa lebih leluasa memilih fotografer yang cocok untuk kita masing-masing. Banyak talented photographer di Internet yang karyanya tidak kalah bagus dan harganya tidak mahal. Lihatlah hasil karyanya, jika sesuai dengan selera anda, lihatlah tarifnya, apabila kedua variabel ini cocok dengan anda, tunggu apa lagi…. ?
  7. Jika anda menginginkan sesuatu yang spesial pada pernikahan anda pilihlah vendor yang betul2 kompeten (artinya memiliki relasi/partner yang mendukung)  dan hindari membeli paket all in one. Tetapi jika pernikahan anda sudah diburu waktu atau anda tidak mau banyak pusing, carilah paket wedding all in one dengan konsekuensi tidak seluruh isi paket tersebut berkualitas baik. Seringkali para penjual jasa menjual paket tersebut hanya untuk menarik lebih banyak customer dengan harga yang lebih murah, dan ironisnya belum tentu seluruh komponen paket tersebut adalah orang-orang yang kompeten dibidangnya. Sebagai contoh misalnya ada seorang wedding organizer yang cukup sukses, lalu ia akan me-rekrut adiknya untuk jadi fotografer dadakan, kakaknya menjadi videografer, temannya menjadi makeup artist, dll, yang mana orang-orang tersebut belum tentu berkompeten dibidangnya.
  8. Sempatkan untuk ketemu dan lihat hasil akhir dari fotografer yang bersangkutan. Jangan mengambil keputusan dari melihat portofolio online saja. Selain untuk menilai cocok/tidak dengan pendekatan fotografernya, juga bisa dilihat dari print akhir fotografer. Karena sebenarnya klien membayar skill dari fotografer adalah kualitas di cetakan akhirnya, bukan dari file digital atau JPEGnya.
  9. Photographer yang berkualitas tentunya percaya akan dirinya sendiri, tanpa harus menjatuhkan nama art photographer atau photographer studio lain, pun customer bisa melihat hasil karya mereka lewat portfolio fotografer itu sendiri.
  10. Saran terakhir, sebaiknya sih, Anda lebih memilih fotografer penuh waktu. Bukan berarti fotografer paruh waktu tidak berkualitas, bukan sama sekali. Hanya saja ada kecenderungan orang yang mengabdikan diri dengan total dalam pekerjaannya menghasilkan karya yang lebih baik. Kecuali jika Anda yakin bahwa fotografer paruh waktu yang Anda inginkan memang berkualitas.

Temukan informasi lainnya mengenai Minang, Padang, Sumatera Barat, perkawinan adat minangkabau, Foto Pengantin, Foto Prewedding, Photo Pernikahan, Fotografi Pernikahan, Photo Wedding, Fotografi Wedding, Foto Pernikahan, Foto Wedding hanya di Foto Pengantin & Prewedding: Photo Pernikahan & Fotografi Wedding,  foto perkawinan, wedding photo, paket foto, fotografer pernikahan, wedding photographer, pre wedding photographer, Minang Wedding, Pre Wedding photography & Wedding Party photography Padang – Sumbar, Padang wedding, Wedding Gallery & Event Organizer, Pre Wedding Photography, pre wedding, pre wedding photographer, pre wedding photography, wedding vendors, Pre Wedding Photography, Pre Wedding Foto, Foto Pra Nikah Foto, Paket Wedding, hasil foto, bentuk foto, ukuran foto,  photo pre wedding di…

Wen’S Photography
Digital Photo Studio & Video Shooting
Jl. Gajah Mada No.30 Gunung Pangilun Padang
Hp 08126764527, Telp 07519901204
http://wensphotography.at.ua
http://wensphotography.blogspot.com
https://wensphotography.wordpress.com

19
May
10

Pergeseran Desain Baju Pengantin Minangkabau

Pada umumnya busana wanita minangkabau terdiri dari dua potong yaitu bagian bawah dan bagian atas, busana atas berupa baju kurung dan dibawahnya memakai kain sarung, dilengkapi lagi dengan hiasan kepala. Adapaun bentuk busana ini walaupun sekilas tampak sama, tetapi untuk tiap kesempatan ada busana berbeda harus dipergunakan, seperti untuk upacara adat, atau untuk kegiatan sehari-hari. Untuk yang kedua ini, yaitu busana sehari-hari lazim digunakan bahan yang nyaman, ringan dan cendrung terbuat dari bahan biasa saja. Bentuk tetap baju kurung sampai lutut, dengan sarung dan tutup kepala, tetapi semua ini pertimbangannnya lebih fungsional. Sedangkan untuk keperluan upacara, tentu penampilannya lebih resmi dan bagus-bagus, bahan yang dipilih biasanya beludru, kain sarungnya kain songket (kain balapak) dengan tutup kepala dan salendang terbuat dari kain balapak, dilengkapi dengan asesorisnya. Pada busana adat, aspek dekoratif lebih besar dibandingkan dengan fungsionalnya. Bentuk yang nyata bedanya adalah dalam tutup kepala, ada beberapa bentuk tutup kepala yang merupakan lilitan dari kain, tiap daerah bisa saja memiliki cara tersendiri dalam mengenakan kain selendang untuk tutup kepala, ada yang meililitkan beberapa putaran, ada yang sekedar diletakkan di atas kepala, atau dibentuk “contong” menyerupai tanduk, bentuk “tanduk” pun tidak semua sama, banyak sekali variasi bentuk tanduk ini. Adapun ketentuan penggunaan busana adat minangkabau untuk perkawinan, tergantung dari daerah asal pengantin, sebab tiap daerah memiliki busana pengantinnya tersendiri. Di daerah pesisir (padang), dikenal busana pengantin yang dinamakan “roki” untuk pengantin pria: yaitu setelan celana selutut, dengan “jas” pendek dan kemeja putih didalamnya, lalu sarung songket. Sebagai pelengkap digunakan tutup kepala, keris, sepatu dan kaos kaki selutut. Menilik bentuk jas pendek atau lebih tepat dikatakan bolero, lalu tutup kepala (saluak) sangat mirip dengan baju matador dari spanyol, besar kemungkinan bentuk ini berasal dari sana. Dalam sejarah minangkabau, pernah disebut-sebut cerita tentang bangsa Barat ketika perdagangan rempah merupakan salah satu sumber utama kekayaan minangkabau. Unsur barat ini hanya muncul pada busana pria, sedangkan busana wanita tetap baju kurung sarung dan selendang tokah yang dipakai menyilang di dada. Sedangkan busana pengantin pria dari daerah darat, menggunakan celana panjang, baju dalam dan jas serta sarung penek di pinggang, dilengkapi penutup kepala, keris dan selop.

Sekarang ini ada kecendrungan para pengantin ingin tampil dengan ideal artistic “kecantikan” menurut jaman dan ukuran masa kini, sehingga terdapat banyak pembaharuan pada baju pengantin. Modifikasi bentuk umumnya tak merubah secara total, hanya dibuat lebih praktis dalam pemakainnya, dilakukan dengan memperbaiki pola baju secara umum. Dahulu baju kurung dibuat longggar karena dikenakan dengan cara memasukkan baju melalui kepala, dan kini ritsleting membuat baju lebih mudah dikenakan, dan bentuk baku tak harus terlalu longgar. Selain itu selendang tokah dibuat menyatu dengan bajunya sehingga tak merepotkan dalam cara pemakaian busana. Pada busana pria juga penyesuaian bentuk pada celana, yang dibuat lebih panjang, sampai mata kaki, karena para pengantin masa kini tak menyukai celana selutut. Hiasan  pada busana pria dan wanita yang ditemui sekarang terbuat dari sulam kerawang dengan aplikasi renda dan taburan manik serta payet. Kini telah jarang dipergunakan taburan dari bahan kuningan serta sudah mulai jarang dijual orang. Hiasan kepala para pada pengantin wanita atau suntiang, bayak dimodifikasi karena penggunannya amat merepotkan dan menyakitkan. Dahulu berupa tusukan tunggal, kini dibuat seperti bando yang diikatkan di kepala, tusukan tunggal hanya berupa tambahan untuk menyesuaikan dengan bentuk muka pengantin.

Pada paparan gambar berikut ini dapat dilihat perkembangannya busana pengantin, yaitu mencari bentuknya sendiri sesuai dengan jaman, situasi dan kondisi yang berlaku. Kemudahan untuk penggunaan, kenyamanan dalam pemakaian serta ketersediaan bahan dan tenaga kerja, masa kini jauh berbeda dengan dahulu. Beberapa bahan dan teknik tak dapat diperoleh lagi karena tak diproduksi atau memang tidak menguntungkan dari sudut pandang usaha. Pekerjaan tangan yang manual menyita terlalu banyak waktu dan ini dapat mempertinggi biaya produksi, tentu berpengaruh pada harga sewa. Kini pasar tersedia beragam ornament yang siap pakai dengan penampilan mirip dengan hasil kerja tangan dan harga yang terjangkau, mendorong pengrajin untuk memanfaatkan hal ini.

Menilik pada bentuk-bentuk baju pengantin, sekilas baju tersebut masih sama, kecuali pembuatan selendang yang bersatu dengan bajunya, lalu celana panjang menggantikan celana selutut. Tetapi baju roki terlihat lebih sering dipilih. Sedangkan baju saluak pengantin kurang popular di kalangan pengantin masa sekarang baku kurung yang dikenakan pengantin wanita kini lebih banyak disulam kerawang kombinasi hiasan renda, manik dan payet. Tetapi yang paling berbeda adalah sarung wanita yang jarang menggunakan kain balapak, digantikan dengan kain yang sama dengan bajunya. Seputar kain sarung ini dhiasi untain manik dari atas sampai mata kain, seputar pinggang. Hal lain yang juga terganti adalah warna: dahulu lazimnya digunakan baju warna merah atau hijau, tapi kini semua warna dapat saja dipergunakan untuk baju pengantin, termasuk warna hitam, hiasan sulam tak sepenuhnya dikerjakan dengan tangan (manual) karena semakin sedikit orang yang mau membuatnya, disamping itu pasar menyediakan banyak sekali variasi renda, hiasan, maik dan payet. Hiasan siap pakai amat memudahkan pekerjaan menghias baju dan mesin jahit mempercepat penyulaman.

Referensi

Arleti M.Apin, Pergeseran Desain Pelaminan Minangkabau, Program Magister Desain, ITB, 2002.

Temukan informasi lainnya mengenai Minang, Padang, Sumatera Barat, perkawinan adat minangkabau, Foto Pengantin, Foto Prewedding, Photo Pernikahan, Fotografi Pernikahan, Photo Wedding, Fotografi Wedding, Foto Pernikahan, Foto Wedding, Photo Pernikahan & Fotografi Wedding, foto perkawinan, wedding photo, paket foto, fotografer pernikahan, wedding photographer, pre wedding photographer, Minang Wedding, Pre Wedding photography & Wedding Party photography Padang – Sumbar, Padang wedding, Wedding Gallery & Event Organizer, Pre Wedding Photography, pre wedding, pre wedding photographer, pre wedding photography, wedding vendors, Pre Wedding Photography, Pre Wedding Foto, Foto Pra Nikah Foto, Paket Wedding, hasil foto, bentuk foto, ukuran foto, photo pre wedding, foto wisuda, foto keluarga, foto seminar, foto produk di…

Wen’S Photography
Digital Photo Studio & Video Shooting
Jl. Gajah Mada No.30 Gunung Pangilun Padang
Hp 08126764527, Telp 07519901204

http://minangphotographer.wordpress.com/
http://minangdigitalphotography.blogspot.com
https://wensphotography.wordpress.com/
http://wensphotography.blogspot.com/

18
May
10

Baralek Rumahan di Minangkabau

Di daerah Sumatera Barat, acara baralek di rumah (bukan di gedung/baralek gadang) dilakukan secara terpisah di rumah mempelai pria dan rumah mempelai wanita. Jadi, keluarga mempelai wanita (disebut anak daro) mengadakan baralek sendiri di rumahnya dan keluarga mempelai pria (disebut marapulai) juga baralek di rumahnya. Ada yang baraleknya pada hari yang sama, ada pula yang beda 1 atau 2 hari. Tidak harus memang, tapi itulah tradisi turun temurun.  Jika dua rumah mengadakan acara baralek, lalu bagaimana mempersandingkan keduanya di pelaminan? Di bawah ini protokolnya:

  1. Prosesi pertama adalah acara manjapuik marapulai (menjemput pengantin pria). Karena di ranah Minang menggunakan adat matrilineal (garis ibu), maka pengantin pria perlu dijemput oleh keluarga pengantin wanita untuk dijadikan urang sumando di rumah keluarga anak daro. Mula-mula keluarga anak daro datang ke rumah marapulai membawa pakaian pengantin marapulai, carano yang berisi daun sirih, rokok, dan lain-lain, serta dua orang sumandan (dua orang perempuan yang akan mendampingi marapulai).
  2. Anak daro tidak ikut serta, dia menunggu di rumahnya saja. Di rumah marapulai keluarga anak daro disambut tuan rumah beserta keluarga besarnya. Di dalam rumah sudah terpasang pelaminan khas Minang yang warna-warni.
  3. Sebelum masuk rumah ada pepatah-petitih dari keluarga anak daro dan keluarga marapulai (yang hakikatnya merupakan kata basa-basi).
  4. Setelah penyambutan selesai, keluarga anak daro masuk ke dalam rumah marapulai, duduk di depan pelaminan. Perhatikan di depan pelaminan tersedia piring-piring yang berisi masakan Minang yang hmmmm… membangkitkan selera makan. Ada rendang, gulai ayam, gulai buncis, dendeng balado, gulai ikan, dan lain-lain. Semuanya masakan orang kampung yang dijamin beda rasanya dengan masakan rumah makan Padang di pulau Jawa.
  5. Sambil menunggu marapulai mengenakan pakaian pengantin, keluarga anak daro dipersilakan makan. Makan pakai tangan, air basuhnya dengan kobokan. Meski perut sudah kenyang, masih disuruh tambuah, tambuah, dan tambuah lagi oleh tuan rumah.
  6. Marapulai selesai didandani dan dipakaikan baju penganten. Dua orang sumandan mengapit marapulai keluar dari rumahnya untuk bersiap-siap menuju rumah anak daro. Pakaian pengantain marapulai, merupakan gabungan dari baju teluk belanga khas Melayu dan pakaian seorang pemain matador. Sebilah keris diselipkan di pinggang bagian depan (bukan di bagian belakang seperti adat Jawa). Marapulai dan rombongan tiba di rumah anak daro diapit oleh dua orang sumandan.
  7. Anak daro keluar rumah menyambut marapulai. Anak daro menggamit tangan marapulai dan membawanya masuk ke dalam rumah.
  8. Di rumah anak daro, kedua mempelai dipersandingkan di pelaminan yang meriah dengan hiasan-hiasan di langit-langit.

Satu hal yang menarik, tanda bahwa di sebuah rumah ada acara baralek di Sumatera Barat adalah umbul-umbul berwarna merah, kuning, hitam yang disebut marawa.

http://rinaldimunir.wordpress.com/2008/07/28/mengikuti-acara-baralek-di-padang/

Temukan informasi lainnya mengenai Minang, Padang, Sumatera Barat, perkawinan adat minangkabau, Foto Pengantin, Foto Prewedding, Photo Pernikahan, Fotografi Pernikahan, Photo Wedding, Fotografi Wedding, Foto Pernikahan, Foto Wedding, Photo Pernikahan & Fotografi Wedding, foto perkawinan, wedding photo, paket foto, fotografer pernikahan, wedding photographer, pre wedding photographer, Minang Wedding, Pre Wedding photography & Wedding Party photography Padang – Sumbar, Padang wedding, Wedding Gallery & Event Organizer, Pre Wedding Photography, pre wedding, pre wedding photographer, pre wedding photography, wedding vendors, Pre Wedding Photography, Pre Wedding Foto, Foto Pra Nikah Foto, Paket Wedding, hasil foto, bentuk foto, ukuran foto, photo pre wedding, foto wisuda, foto keluarga, foto seminar, foto produk di…

Wen’S Photography
Digital Photo Studio & Video Shooting
Jl. Gajah Mada No.30 Gunung Pangilun Padang
Hp 08126764527, Telp 07519901204

http://minangphotographer.wordpress.com/
http://minangdigitalphotography.blogspot.com
https://wensphotography.wordpress.com/
http://wensphotography.blogspot.com/

18
May
10

Kajian Budaya Rupa terhadap Benda Upacara Adat Carano pada Masyarakat Minangkabau

Masyarakat minangkabau memperingati peristiwa-peristiwa penting dengan upacara adat. Peristiwa-peristiwa yang diperingati dengan upacara adat adalah, batagak penghulu, sidang musyawarah pemuka-pemuka adat, upacara adat perkawinan dan upacara adat lainnya. Upacara adat dilakukan sesuai dengan ketentuan-ketentuan adat yang selalu memiliki perlengkapan-perlengkapan, salah satu perlengkapan yang selalu hadir dalam upacara adat disebut carano.

Carano merupakan wadah diisi dengan kelengkapan sirih, pinang, gambir, dan kapur sirih, serta dulamak atau kain penutup carano. Keberadaan carano dan kelengkapannya dalam upacara adat sangat penting sekali. Tanpa menggunakan carano dan kelengkapannya tersebut, maka upacara adat belum dapat dilaksanakan. Carano memiliki makna yang khusus dalam upacara adat, yaitu keindahan carano, bentuk, motif-motif ukirannya, serta kelengkapan carano, disanjung dengan kata-kata perumpamaan yang disampaikan oleh orang-orang tertentu.

Carano dan kelengkapannya, memiliki makna yang kompleks dalam budaya masyarakat minangkabau. Di dalammnya terkandung berbagai makna yang erat kaitannya dengan ajaran-ajaran dan falsafah adat yang bersendikan kepada syariat islam. Dalam sidang musyawarah pengukuhan panghulu, carano melambangkan kekuatan kata mufakat yang dihasilkan melalui musyawarah, dan disahkan dengan carano. Begitu juga dalam adat perkawinan, carano mencerminkan kemuliaan bagi kaum wanita, ia merupakan lambang kekerabatan di minangkabau.

Bentuk dan kelengkapan carano memiliki perlambangan yang erat hubungannya dengan falsafah adat minangkabau. Makna yang tersimpan dalam kelengkapan carano merupakan simbol komunikasi dalam masyarakat yang sesuai dengan ajaran adat. Makna bentuk carano merupakan simbol falsafah adat alam takambang jadi guru bagi masyarakat minangkabau, yang berlandaskan syariat islam.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa carano adalah lambang adat minangkabau, ia merupakan himpunan pokok-pokok pikirran yang dilekatkan ke dalam simbol-simbol yang terdapat dalam carano.

Carano salah satu benda upacara pada umumnya selalu digunakan dalam upacara adat. Carano memiliki bentuk yang khas yang sejak dahulu sampai sekarang bentuk carano tidak pernah berubah. Carano terdiri dari bahan logam yang memiliki warna kemasan dan memiliki motif-motif hiasan.

Kemudian carano memiliki motif-motif tertentu yang berbentuk stilasi flora dan fauna. Disamping itu carano mempunyai kelengkapan sirih, pinang, gambir dan kapur serta kelengkapan lainnya seperti tembakau sugi dan dalamak. Dalam upacara adat makna yang terkandung dalam carano disebutkan dengan pepatah-petitih. Dalam pidato-pidato persembahan upacara adat, petatah-petitih tentang carano dan kelengkapannya diucapkan dalam pidato persembahan adat. Dalam pidato persembahan tersebut seluruh yang berhubungan dengan carano seperti bentuknya, motif-motif dan kelengkapannya yang terdapat dalam carano, serta makna lainnya diungkapkan dengan kata-kata kiasan dan kata perumpamaan.

Penggunaan carano dalam upacara melihat kepada jenis upacara dan sistem peresmian upacara tersebut. Dalam upacara adat Batagak Pangulu keberadaan carano mutlak, maksudnya cerano tidak bisa ditukar dengan benda yang lain. Tetapi dalam upacara adat lainnya seperti perkawinan, cerano dihadirkan melihat tingkatan sistem peresmian upacaranya. Seperti yang dijelaskan diatas bahwa sebuah upacara jika peresmiannya dengan mengundang seluruh masayarakat dengan menyemblih kerbau atau kambing maka carano harus dihadirkan. Namun demikian seandainya carano tidak ditemukan misanya maka ada ketentuan adat, bahwa carano boleh ditukar dengan wadah lain namun sirih dan kelengkapannya tidak boleh ditukar dengan yang lain. Menyikapi hal yang demikian sesungguhnya untuk melakukan hal yang seperti ini harus disepakati terlebih dahulu oleh pemuka adat. Dalam masyarakat minangkabau ada beberapa upacara adat pelaksananya berlaku menurut keadanaan dan tempat, begitu juga cara pemakaian carano disesuaikan dengan upacara yang diadakan.

Pemakaian carano dan kelengkapannya berfungsi sebagai lambang persembahan untuk memberikan suatu kehormatan dalam upacara adat, yaitu merupakan alat berkomunikasi dengan masyarakat pengunjung atau tamu-tamu yang datang dalam upacara adat. Setiap upacara adat di minangkabau tamu akan dihormati dengan menyuguhkan sirih pinang yang diletakkan dalam carano, melakukan hal yang seperti ini berarti telah melaksanakan adat. Begitu juga isi atau kelangkapan carano, seperti sirih, pinang, gambir, kapur sirih dan tembakau.

Dalam upacara adat pidato persembahan carano dengan kelengkapannya ini diungkapkan di hadapan orang-orang yang hadir dalam upacara adat. Kemudian carano yang berisikan sirih pinang itu mintak dicipi kepada tamu-tamu. Pada saat menyuguhkan sirih pinang kepada tamu disampaikan pula sebuah pepatah: “Tantangan carano nan katangah, siriahnyo mintak dicabiak, pinangnyo mintak digatok”. Semua ini dilakukan apabila pembicaraan akan dimulai. Keberadaan carano pada upacara adat suatu hal yang menentukan, tanpa ada carano bisa saja suatu acara adat belum dapat dilangsungkan.

Motif-motif yang terdapat dalam carano sesunguhnya erat hubungannya dengan motif yang terdapat dalam rumah gadang, sebagaimana yang telah dijelaskan bahwa rumah gadang adalah merupakan sumber dari segala motif ukiran yang terdapat di minangkabau

Carano merupakan sebuah wadah khusus yang berfungsi sebagai benda upacara adat yang digunakan oleh masyarakat minangkabau. Keberadaan carano dalam berbagai bentuk upacara adat merupakan sesuatu yang mutlak. Carano merupakan tanda bukti bagi keabsahan sebuah upacara. Jika sebuah upacara dilakukan tanpa menggunakan carano sebagai salah satu benda upacara, maka upacara yang dilaksanakan tersebut belumlah sempurna. Bisa jadi upacara yang dilaksanakan tanpa menggunakan carano dapat dianggap tidak syah. Dengan demikian carano adalah benda yang melambangkan adat minangkabau. Lambang ini memiliki simbol-simbol yang memperlihatakan adat-istiadat. Keberadaan carano  mengandung pokok-pokok pikiran dan ilmu pengetahuan orang minangkabau dalam menyesuaikan kehidupannya dengan perkembangan zaman.

Masyarakat minangkabau dalam menciptakan bentuk carano tidak pernah berubah sampai sekarang. Bahwa dalam bentuk struktur carano terdapat makna-makna. Ungkapan dari bentuk struktur carano erat sekali hubungannya dengan falsafah adat minagkabau. Carano merupakan benda yang mencerminkan budaya masyarakat minangkabau. Sehingga kemudian, carano dijadikan sebagai simbol bagi falsafah adat minangkabau. Bagi masyarakat minangkabau bentuk carano yang seperti ini mempunyai nilai-nilai yang khusus, sebab bentuk carano ini sudah merupakan kesimpulan dari pokok-pokok pikiran yang dituangkan ke dalam adat minangkabau.

Sebagai sebuah benda upacara adat, carano memiliki latar belakang sejarah yang cukup panjang. Carano merupakan sebuah benda pusaka bagi masyarakat minangkabau. Carano erat hubungannya dengan falsafah adat dan sejarah keberadaan masyarakat minangkabau. Oleh karena itu carano yang dilengkapi dengan siriah pinang langkok, serta dulamak, mengandung makna-makna yang erat kaitannya dengan jalan fikiran serta prilaku masyarakat minangkabau. Carano dan kelengkapan berupa siriah pinang langkok, serta dulamak, merupakan kesatuan yang tidak bias dipisahkan. Sehingga dalam setiap upacara adat, sebuah carano baru dapat berfungsi apabila ia telah berdiri dalam sebuah kesatuan yang utuh, yaitu carano, siriah pinang langkok dan dulamak. Dengan adanya kelengkapan yang utuh ini, barulah kemudian sebuah upacara adat dapat dilaksanakan.

Motif-motif yang terdapat dalam carano erat hubungannya dengan makna yang tersimpan dalam carano. Motif-motif yang melekat dalam carano merupakan nilai-nilai dan norma-norma bagi masyarakat minangkabau. Motif carano diciptakan sedemikian rupa dengan mencontoh bentuk-bentuk yang terdapat di alam seperti flora dan fauna. Dasar dari bentuk motif ini sesungnguhnya memberikan konsep dan pikiran bahwa motif yang diciptakan ini membawa pesan berupa ajaran-ajaran dalam kehidupan. Sebelum mereka menciptakan motif yang seperti ini sesungguhnya masyarakat minangkabau terlebih dahulu menghayati kehidupan tumbuh-tumbuhan atau alam lingkungannya. Dari hasil penghayatan tersebut muncullah pikiran-pikiran bahwa semua yang ada di alam ini mempunyai tata acara yang bisa dijadikan contoh. Dasar ini merupakan tempat berpijak bagi mereka untuk mulai menghayati dan  mengambil hikmahnya untuk masa-masa yang akan datang. Sehingga keluarlah pepatah-petitih yang mengatakan untuk melihat dan mencontoh bagaimana kehidupan alam. Pepatah petitih ini kemudian disampaikan dengan bahasa rupa sehingga mereka menciptakan motif-motif hiasan yang dicontoh dari alam dan bentuk motif yang menyerupai ala mini baik flora atau fauna, bukanlah hanya sekedar mencontoh saja tetapi menghayati dan meniru apa pesan yang tedapat ddidalamnya. Hasil penghayata tersebut dapat menjadi acuan bagi mereka untuk menjalin hubungan dengan seluruh masyarakat dilingkungan sendiri, begitu juga sebagai penuntun hubungan dengan masyarakat luas dari luar masyarakat di minangkabau.

Warna carano menyerupai kuning keemasan walaupun carano ini bukan terbuat dari emas. Sesungguhnya warna keemasan ini mempunyai makna yang dalam bagi masyarakat minangkabau. Sebagaimana sudah diketahui bahwa carano terdiri dari beberapa jenis logam. Bahan-bahan tersebut dipadukan sehingga memancarkan warna kuning keemasan. Warna kemasan ini adalah melambangkan pikiran-pikiran yang telah teruji kebenarannya. Begitu juga dari keragaman jenis logam sebagai bahan, carano akan memiliki kekuatan daya tahan dari polusi alam. Dari dasar pemikiran tersebut masyarakat minangkabau menganggap bahwa bahan warna yang demikian memperlihatkan keteguhan seorang pemimpin dalam masyarakat minangkabau.

Dan sekarang carano dibuat menyerupai warna keemasan. Untuk mendapatkan warna keemasan tersebut carano dibuat dari bahan campuran logam yang dipadukan sehingga memyerupai emas baik dari warnanya maupun dari bahannya. Campuran dari berbagai logam ini juga memiliki maksud dan tujuan tertentu dalam kehidupan masyarakat minangkabau. Emas memang merupakan logam yang paling mulia namun dari kesempatan untuk mendapatkan emas ini lebih sulit dari bahan yang  lain disamping harganya sangat mahal. Begitu juga untuk menjaga keselamatan dan pemeliharaan harus lebih berhati-hati karena emas ini kadang-kadang dapat mendatangkan niat yang salah bagi orang yang melihatnya bahkan ada godaan untuk dapat memiiliki walaupun itu bukan hak bagi yang ingin mendapatkannya.

Bentuk carano terdiri dari dua bagian, yaitu bagian atas dan bagian bawah. Kedua bagian ini  bisa dibuka atau dipisahkan. Jadi pada dasarnya carano minangkabau dapat dibuka, atau dipisahkan antara bagian atas dan bagian bawah. Kedua bagian carano tersebut merupakan simbol dari lak-laki dan perempuan. Simbol ini diungkapkan dengan struktur yang terdapat pada carano, yaitu struktur bawah dan struktur atas. Makna struktur atas dan struktur bawah merupakan lambang kesuburan. Dengan demikian bentuk carano memiliki makna sebagai sumber kehidupan.

Sirih merupakan simbol wanita, sedangkan pinang adalah simbol laki-laki. Sirih dan pinang sama-sama memiliki khasiat bagi kaum wanita dan kaum laki-laki. Sirih dan pinang berfungsi sebagai obat, oleh karena itu sirih pinang langkok dianggap sebagai sebuah simbol yang memiliki makna sakral. Siriah pinang langkok memiliki makna sebagai lambang kesuburan.

Carano juga merupakan simbol dari dua orang filsuf minangkabau, yaitu Datuak Ketumanggungan dan Datuak Parpatiah nan Sabatang.  Kedua orang ini disimbolkan oleh dua struktur yang terdapat pada carano. Struktur bawah merupakan simbol dari Datuak Ketumanggungan, merupakan simbol dari dasar-dasar ajaran adat minangkabau. Disamping itu ia merupakan lambang  dari sistem pemerintahan yang dianut oleh Datuak Ketumanggungan. Sebuah sistem otokrasi, nan titiak dari ateh, atau yang titik dari atas. Sebuah sistem pemerintahan berlandaskan kepada kesepakatan para pemimpin. Sistem kepemimpinan ini dikembangkan oleh Datuak Ketamanggungan dalam keselarasan suku Koto Piliang.

Sedangkan struktur atas merupakan simbol dari Datuak Parpatiah nan Sabatang, ia merupakan simbol dari sebuah demokrasi, nan mambasuiak dari bumi, atau yang membersit dari bumi. Ajaran adat ini dikembangkan oleh datuak parpatiah nan sabatang dalam keselarasan suku bodi caniago.

Carano juga merupakan simbol dari alam pikiran, ia merupakan simbol dari falsafah adat Minangkabau yaitu alam takambang jadi guru. Alam merupakan sumber inspirasi dalam prilaku masyarakat. Alam yang selalu bergerak dalam sebuah sistem yang tetap merupakan guru bagi kelangsungan hidup manusia. Prinsip alam inilah kemudian yang dikembangkan oleh dua orang filsuf Minangkabau yaitu Datuak Ketuanggungan dan datuak Parpatiah nan Sabatang.

Sirih pinang langkok juga memiliki mamgandung makna sosial, ia berfungsi sebagai media komunikasi. Siriah pinang langkok merupakan media komunikasi rahasia, ia digunakan untuk menyampaikan berbagai keinginan-keinginan yang tidak mungkin disampaikan secara terang-terangan. Oleh karena itu untuk menyampaikan keinginan tersebut digunakanlah siriah langkok sebagai alat komunikasi. Siriah pinang langkok berisi pesan-pesan tertentu yang erat kaitannya dengan upacara adat. Diterima atau tidaknya sebuah pinangan atau lamaran dalam sebuah upacara adat meminang ditentukan oleh siriah pinang langkok yang diletakkan dalam carano.

Siriah pinang langkok juuga merupakan simbol tanda hasil keputusan dan kesepakatan. Dalam adat minangkabau semuanya itu disebut dengan kata mufakat. Jadi siriah pinang langkok memiliki makna kata mufakat, yaitu berbagai permasalahan yang telah dirembukkan secara bersama-sama kemudian dikukuhkan dengan sirih pinang langkok.

Dulamak memberikan makna bahwa segala sesuatunya memiliki tata cara atau etika. Dalam adat minangkabau berbagai keputusan yang terdapat dalam musyawarah dapat dijadikan sebuah keputusan yang baik. Karena ia diputuskan secara bersama antar orang-orang yang cerdik lagi cendikian atau cadiak pandai. Berbagai keputusan tersebut sudah merupakan kata mufakat. Untuk menghindari berbagai syak wasangka yang timbul oleh kata mufakat tersebut, maka semua keputusan tersebut disampaikan dengan siriah pinang yang tertutup oleh dulamak.

Sebagai sebuah benda upacara yang memiliki nilai estetis. Carano merupakan ungkapan dari falsafah adat, ia juga merupakan lambang kesuburan, oleh karena itu cerano memiliki bentuk yang kokoh, karena pada bagian bawah memiliki tapak dalam bentuk mendatar, sehingga cerano dapat berdiri dengan kokoh. Dengan struktur bentuk yang dimiliki carano kemudian dilengkapi dengan beberapa motif hias, yang diukirkan pada bagian carano, memiliki nilai estetis yang monumental. Carano memiliki warna kuning keemasan memiliki makna yang tersediri bagi masyarakat minangkabau warna tersebut memperlihatkan keagungan memiliki kharisma bagi orang yang memandangnya

Siriah pinang langkok sebagai sebuah media komunikasi memiliki pula niai estetis, terutama jika dilihat dari sisi komunikasinya. Ia memiliki nilai etika dalam berkomunikasi dan memiliki nilai estetika dalam hal cara penyampaian keinginan. Keinginan-keinginan tersebut dikemas dalam sebuah bahasa rupa yaitu siriah pinang langkok. Sehingga secara halus komunikasi tersebut dapat berjalan dengan baik. Keindahan komunikasinya terletak dalam adat sopan santun tanpa menyinggung atau merusak perasaan orang-orang yang terlibat didalamnya.

Dulamak merupakan bagian dari kelengkapan carano. Ia berfungsi sebagai penutup siriah pinang langkok yang ada dalam carano. Ia berfungsi sebagai penutup siriah pinang langkok yang ada dalam carano. Sebagai sebuah kelengkapan carano, dulamak juga memiliki makna estetis. Ia merupakan simbol dari perwujudan kehalusan budi dalam berkomunikasi. Bahwa sesuatu yang panting dan rahasia dalam berbagai masalah hendaklah ditutup agar tidak mendatangkan hal-hal yang merugikan dan terlalu berkelebihan.

Referensi:

Zubaidah, Kajian Budaya Rupa terhadap Benda Upacara Adat Carano pada Masyarakat Minangkabau, Thesis, Program Magister  Seni Murni, Program Pascasarjana, ITB, 2001.

Temukan informasi lainnya mengenai Minang, Padang, Sumatera Barat, perkawinan adat minangkabau, Foto Pengantin, Foto Prewedding, Photo Pernikahan, Fotografi Pernikahan, Photo Wedding, Fotografi Wedding, Foto Pernikahan, Foto Wedding, Photo Pernikahan & Fotografi Wedding, foto perkawinan, wedding photo, paket foto, fotografer pernikahan, wedding photographer, pre wedding photographer, Minang Wedding, Pre Wedding photography & Wedding Party photography Padang – Sumbar, Padang wedding, Wedding Gallery & Event Organizer, Pre Wedding Photography, pre wedding, pre wedding photographer, pre wedding photography, wedding vendors, Pre Wedding Photography, Pre Wedding Foto, Foto Pra Nikah Foto, Paket Wedding, hasil foto, bentuk foto, ukuran foto, photo pre wedding, foto wisuda, foto keluarga, foto seminar, foto produk di…

Wen’S Photography
Digital Photo Studio & Video Shooting
Jl. Gajah Mada No.30 Gunung Pangilun Padang
Hp 08126764527, Telp 07519901204

http://minangphotographer.wordpress.com/
http://minangdigitalphotography.blogspot.com

https://wensphotography.wordpress.com/

16
May
10

Makan Bajamba Sebagai Representasi dari Posisi Anak Laki-laki dalam Budaya Minangkabau

a. Peran Laki-laki dalam Adat Minangkabau

Sumatera Barat yang dikenal dengan budaya minangkabaunya, yaitu sebuah budaya yang menganut sistem matrilineal, yaitu sebuah sistem sosial yang mengikuti garis keturunan ibu sebagai pedomannya. Sistem ini menurut ahli antropologi merupakan suatu sistem sosial masyarakat tertua yang lahir jauh sebelum lahirnya sistem patrilineal.

Posisi adat istiadat bagi orang minangkabau adalah sebagai pedoman dan peraturan dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Di Minangkabau antara adat dan agama terjadi peleburan dan tidak saling mempertentangkan satu sama lainnya di sini dikenal dengan istilah adaik basandi syarak, syarak basandi kitabullah (adat besandar kepada peraturan, dan peraturan bersandar ke pada kitab Allah).

Berdasarkan dua buah patokan yaitu sistem matrilineal dan adat istiadat yang sangat kental dalam kehidupan kesehariannya seorang individu berkembang di bumi minangkabau. Dalam budaya minangkabau seorang laki-laki mempunyai peran yang sangat  penting (saudara laki-laki kandung ibu) yang akan membimbing para kemenakannya (anak dari saudara perempuan kandung), serta akan menjadi seorang bapak yang akan menafkahi keluarganya.

b. Makan Bajamba

Makan bajamba adalah salah satu ritual dalam adat minangkabau. Sebuah ritual makan bersama yang di adakan dalam lingkup keluarga dekat dalam hal ini di hubungkan oleh pertalian darah dan terkadang juga diadakan dalam lingkup yang lebih luas dalam hal ini satu suku (suku dalam adat minangkabau hampir sama dengan marga dalam adat batak).

Dalam ritual makan bajamba ini makanan disajikan dalam piring-piring atau loyang yang besar yang biasanya berdiameter minimal 70 cm, dan disantap oleh lima sampai enam orang per satu piringnya, dengan posisi duduk di lantai mengelilingi piring.

(jamba batalam)

Dan biasanya ritual ini diawali oleh pembacaan Al Quran dan diiringi dengan petatah-petitih dari tuan rumah atau pemuka adat yang hadir pada saat itu. Terdapat beberapa aturan dalam prosesi makan bajamba ini seperti yang menyuap (mengambil makanan dengan tangan) yang pertama kali adalah yang paling tua, dan yang menambahkan makanan atau lauk ke dalam piring adalah yang paling muda, dan juga tetap dijaganya tata krama dan etika pada saat makan.

(jamba perai)

Acara makan bajamba ini biasanya dijadikan pelengkap bagian acara adat lainnya seperti pernikahan, khitanan, halal bihalal, khatam alquran dan beberapa acara adat lainnya.

Dalam budaya minangkabau seorang anak laki-laki mempunyai peran yang sangat penting sebagai tulang punggung keluarga, karena seorang anak laki-laki kelak akan menjadi mamak yang akan membimbing para kemanakannya, serta akan menjadi seorang bapak yang akan menafkahi keluarganya serta menjaga kehidupan budayanya.

Referensi:

Makan Bajamba, Sebagai Representasi dari Posisi Anak Laki-laki dalam Budaya Minangkabau, Benny Muhdaliha, Departemen Seni Murni, Fakultas Seni Rupa dan Desain, ITB, 2006.

16
May
10

Pergeseran Desain Pelaminan Minangkabau

Masyarakat minangkabau terkenal dengan adat yang kuat, serta aturan kehidupan sosial. Adat mengatur agar keadilan dan kemakmuran merata bagi seluruh warga. Hal ini berlangsung telah lama, sebelum islam masuk sekitar abad ke 8 dan 9, sampai kini setelah berbagai unsur mempengaruhi, tetapi adat masih tetap dihormati dan dijunjung tinggi. Masyarakat minangkabau, seperti juga masyarakat lain memiliki cara untuk mengajarkan ajaran menurut adatnya, yakni melalui oral dan melalui visual. Penyampaian cara lisan atau oral adalah dengan tambo, sedangkan cara visual melalui ragam hias yang banyak terdapat di sekitar mereka. Begitu pula yang terdapat pada perangkat upacara pernikahan adat minangkabau, dengan kain warna-warni yang dengan sulaman ragam hias yang sarat pesan dan harapan baik bekal untuk mempelainya.Keterikatan terhadap adat ini tak luntur walaupun mereka berada jauh dari tanah kelahirannya.

Dalam masyarakat minangkabau, budaya merantau sangat akrab sehingga komunitas masyarakat minangkabau di luar daerah asli tampak cukup menonjol jumlahnya. Bagi mereka merantau adalah suatu cara untuk memperluas wawasan, mencari penghidupan dan pendidikan, agar kelak dapat mengembangkan daerah sendiri. Pekerjaan di perantauan bermacam-macam, mulai dari kaum intelektual, pedagang, sampai dengan pengangguran asal minangkabau dapat dijumpai di luar pulau sumatera bahkan d luar negeri. Walaupun berada relatif jauh dari kampung halaman, tetapi mereka tetap menjunjung tinggi adat minangkabau dengan caranya masing-masing. Kekerabatan umumnya masih cukup kuat dan aturan adat juga tidak ditinggalkan. Kelompok sosial, budaya maupun ekonomi masyarakat minangkabau perantauan terasa kuat. Kekuatan ikatan ini memang selalu terjadi bila seseorang berada jauh dari tempat asalnya, kenangan dan kerinduan membuat jadi lebih dekat dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan asalnya. Kebanggan dilahirkan sebagai orang minangkabau sangat besar atau mungkin kesadaran terhadap kebaikan nilai yang terkandung di dalamnya yang menyebabkan mereka selalu memegang teguh adat.

Kehidupan perantauan tentu tidak sama dengan kampung halaman, karena situasi pun berlainan. Tempat tinggal juga memiliki adat istiadatnya sehingga para perantau ini perlu menyesuaikan diri. Hal yang sangat dijunjung oleh falsafah mereka “dima bumi dipijak, di sinan langik dijunjung”. Untuk menghargai adat istiadat setempat sebagai ungkapan keinginan membaur. Beberapa tatacara adat yang tetap dijalankan tidak selengkap di tempat asalnya, karena kendala situasional. Sebagian dari hal yang sangat prinsip, tentu tetap dipertahankan, tetapi tak sedikit yang dibuat lebih sederhana atau dipermudah. Hal ini selain ditunjang oleh situasi di perantauan, juga karena gaya hidup dan nilai lokal yang berlaku.

(contoh pelaminan rumahan)

Perkawinan sebagai contoh salah satu bagian dari tatacara adat yang mengalami penyesuain dengan nilai baru yang berlaku. Di daerah minangkabau, saat perkawinan dilangsungkan, seluruh anggota keluarga dan kerabat berkumpul dan saling membantu. Acara perkawinan awalnya dilakukan di rumah keluarga mempelai wanita (rumah gadang), sebagai pihak yang berpesta. Perkembangan ukuran rumah tinggal menjadi lebih kecil dan terdapat kecendrungan hubungan kekelurgaan yang tidak terlalu erat lagi di jaman sekarang. Sedangkan hubungan sosial yang meluas sampai ke relasi kerja menyebabkan jumlah tamu undangan bertambah. Kecendrungan ini terutama terjadi di kota besar, sehingga kemudian muncul gagasan untuk melaksanakan pesta perkawinan di gedung pertemuan. Gagasan ini cepat sekali berkembang sebab cara ini menjadikan banyak urusan lebih sederhana (praktis) dan dapat memenuhi banyak keinginan dan kebutuhan. Bagi keluarga yang mampu secara ekonomi, hal ini sangat cocok, sebab mereka tidak ingin terlampau repot dalam mengurus keperluan ini tetapi ingin tetap melaksanakan sesuai adat istiadatnya. Acara bisa dilakukan di gedung pertemuan atau hotel maupun rumah makan yang menyediakan sarana ini. Tentu sarana juga berkembang sejalan dengan kebutuhan dan jaman, sehingga lahir penawaran untuk memenuhi keinginan pemakai, sesuai dengan kemampuan masing-masing

(contoh pelaminan rumahan)

Pernikahan secara adat masih dilakukan dan oleh masyarakat minangkabau yang merantau ke kota besar. Adat bagi orang minangkabau adalah mirip dengan adab, dan menjalankan adat akan menunjukkan bahwa ia orang beradab. Kebanggaan terhadap asal daerah dan adat diungkapkan dengan keinginan memperlihatkan identitasnya. Tatacara adat yang dilakukannnya memperlihatkan statusnya sebagai orang terhormat dan tahu adat. Kehidupan sosial yang berbeda membuka luas pergaulan di kota, sehingga memungkinkan para pemuda mendapatkan pasangan yang tidak sama suku bangsanya.  Perkawinan antar suku bangsa sangat lumrah dan makin banyak terjadi. Pada umumnya kelurga yang akan menikah, memilih adat salah satu calon pengantin, dan seringkali menggunakan adat pihak mempelai wanita. Hal ini berlaku juga pada keluarga asal minangkabau, walaupun di daerah aslinya sudah ada ketentuan yang mengatur, tetapi hal ini umumnya  dapat disesuaikan di perantauan.

Dalam tiap perkawinan orang selalu mengharapkan agar segala sesuatu yang baik dan membawa kebahagian terutama para pengantin. Ungkapan ini dapat muncul dalam bentuk yang bervariasi, mulai dari tata upacara sampai bentuk visual yang ditampilkan. Kelanggengan perkawinan yang bahagia merupakan impian tiap pasangan dan tiap keluarga mengharapkan kebahagianaan serta kebaikan dengan bersatunya pasangan pengantin. Ungkapan ini disampaikan melalui beberapa bahasa visual, seperti ragam hias, bentuk, warna dan lainnya. Sedangkan ungkapan lainnya adalah, upacara yang banyak menyiratkan perlambangan serta harapan demi hal yang baik. Perlengkapan upacara adat pernikahan cara minangkabau, salah satunya adalah pelaminan, menjadi sarana ungkapan kebahagiaan, petuah, doa dan harapan bagi mempelai.

Unsur dan keadaan sekitar tempat tinggalnya, membawa pengaruh pada bentuk, warna dan bahan pada pelaminan pengantinnya. Baik disadari maupun yang terjadi tanpa disengaja, tak dapat dihindari. Nilai dan budaya lokal tampak berpengaruh pada tata upacara adat mingkabau, sebagai unsur tambahan. Kebiasaan atau budaya lokal secara langsung bercampur dengan luwesnya . kehidupan kota dengan gaya hidup turut pula membentuk budaya minangkabau peratauan. Penyesuaian terhadap nilai baru yang berlaku dan nilai adat yang dianut menjadikan pembauran. Nilai-nilai baru telah mendorong lahirnya bentuk pelaminan baru yang dirasa tidak kuno, serta lebih sesuai dengan jamannnya.

Pergeseran bentuk perangkat pelaminan bisa berupa desain dan pengembangan pelaminan pengantin, komposisi warna dan ragam hias pada pelainan, ukuran dan proporsi pelaminan, baju pengantin, perangkat pendukung, punggung pelaiman.

Pelaminan minangkabau

Arti pelaminan menurut kamus umum bahasa Indonesia, pelaminan berarti tempat duduk (tidur) pengantin; naik, kawin. Lamin M, melain: menghiasi tempat tidur pengantin.

Pelaminan: tempat duduk pengantin  (poerwadarminta, 1987: 557)

Tempat pengantin bersanding disebut pelaminan, adapun bentuk pelaminan ini dasarnya berupa panel dengan bagian tengah beratap terbuat dari kain bersulam emas. Di bawah bagian beratap inilah pengantin duduk bersanding. Pelaminan adat mingkabau memiliki bentuk yang sangat menarik, banyak ragam hias dan warna yang membuat penampilannnya semarak. Di masa lalu pelaminan dipergunakan oleh bangsawan dan raja-raja, tetapi kini pengantin dianggap sebagai raja sehari, sehingga mereka layak disandingkan di pelaminan.

Secara langsung, kita segera menangkap unsur luar pada pelaminan minangkabau ini, yaitu pada ragam hias, warna merah, emas, nyata sekali datang dari cina. Walaupun tak ada suatu peraturan yang menggariskan bentuk atau pakem mengenai pelaminan, namun ada bagian yang merupakan keharusan dalam suatu pelaminan minangkabau. Dengan tak adanya aturan baku dalam bentuk pelaminan, ini terdapat perbedaan bentuk secara fisik antara satu dan lainnya, baik secara nyata maupun perbedaan sekilas. Walaupun demikian, ada beberapa unsur yang tak boleh dihilangkan dalam pelaminan, hal yang esensial yang memberi ciri minangkabau pada pelaminan itu adalah:

  1. Bahan-bahan yang dipergunakan baik untuk tabia maupun yang lain-lainnya ialah kain-kain bersulam benang emas atau perak dengan motif ukiran minangkabau.
  2. Harus mempunyai banta-banta gadang.
  3. Ada tirai (langik-langik) di atas tempat bersandingnya yang menggantungkan mainan angkin-angkin dan karamalai.
  4. Ada lalansia kulambu balapih dan banta-banta kopek pada bilik utamanya.
  5. Mempunyai galuang dan kain jalin dengan butun-butun pengapit biliknya.

Awalnya memang terdapat perbedaan bagi kaum bangsawan, yaitu jumlah tirai harus tujuh lapis dan banta gadang yang semakin banyak makin tinggi derajat keluarganya. Tetapi hal itu tak lagi menjadi permasalahan besar pada masa ini sebab bangsawan minangkabau tak eksis lagi. Hanya saja kini orang lebih mengembangkan bentuk yang beragam dalam desain pelaminan dan semakin semarak penampilannya.

Pada masa lalu pernikahan diadakan di rumah mempelai wanita (anak daro), pelaminan yang berupa panel dari kain bersulam dipasang di bagian tengah ruang. Pelaminan sebagai tempat bersandingnya pengantin, dalam upacara adat perkawinan minangkabau bukan merupakan bagian utama, melainkan sebagai pelengkap atau pendukung. Secara umum bentuk dasar pelaminan dari tiap daerah mempunyai kesamaan: tetapi ada sedikit perbedaan bentuk atau susunan pada pelaminan antara daerah pedalamn dan daerah pantai di minangkabau. Pelaminan yang berbentuk panel dari kain ini awalnya ditujukan untuk dipasang di rumah adat pada salah satu anjungnya. Rumah adat yang berbentuk panjang dengan anjung pada kedua ujungnya dan beberapa kamar di sepanjang dinding dan ruang kosong di bagian tengahnya untuk berbagai kegiatan sosial. Bila ada perkawinan, maka pelaminan dipasang di bagian anjung dengan tiap kamar ditandai oleh banta gadang. Bagian anjung ini pada masa lalu merupakan tempat raja bertahta, duduk bersila di atas kasur berbentuk segi empat panjang. Sedangkan kemudian hari anak daro dan marapulai dianggap sebagai raja sehari yang menempati bagian anjung ini sebagai ‘raja’

Bentuk rumah gadang yang memanjang dan kosong pada bagian tengah, ditujukan untuk tempat berkumpulnya kerabat, dan di kampung kenduri didadakan secara duduk bersila seputar ruang. Para tamu duduk bersama menghadapi sajian yang ditata di bawah (lantai). Tempat pengantin berada pada ujung (anjung) rumah gadang. Kerabat dan tamu yang datang tidak disatukan antara pria dan wanita, umumnya pria menempati bagian depan, dan wanita di belakang. Makanan baik nasi beserta lauk pauknya, maupun kue dan buah-buaha disajikan di bawah.

Menurut beberapa sumber, konon bentuk pelaminan ini berasal dari tempat tidur pengantin cina, yaitu ketika seorang raja cina mengirim seperangkat pelaminan untuk meminang bundo kanduang. Hal ini mungkin mengandung kebenaran dari bentuk yang ada pada pelaminan, dilihat dari banyaknya unsur Cina baik dari segi penggunaan warna, motif maupun hiasan lain yang terdapat pada bagian-bagian pelaminan minangkabau. Misalnya ada motif burung phoenix, singa, naga, kupu-kupu, warna merah, biru dan emas, lalu pada bentuk hiasan gantung pada langik-langik serta hiasan sunting pada anak daro. Dan unsur ini bergabung dengan unsur lainnya masih banyak dijumpai pada pelaminan yang digunakan sampai kini. Pelaminan sendiri terdiri dari beberapa unsur, sehingga amat sulit mengatakan bentuk yang asli, perubahannya cukup banyak hingga kini, dan makin mempersulit menunjukkan bentuk asli.

Pelaminan sendiri berbentuk panel kain berhias sulaman, dan dipasang menutupi dinding, dengan bagian tengah tempat duduk mempelai dilengkapi kain persegi yang digantungkan di atas, disebut langik-langik. Bentuk ini menurut cerita melambangkan keterbatasan manusia. Pada langik-langik ini digantungkan hiasan lidah-lidah berbentuk serupa dasi yang melambangkan manusia berucap bias baik bias juga buruk. Selain lidah-lidah ada pula hiasan lainnya yang digantungkan, karamalai dan angkin-angkin yang merupakan lambang rangkaian sambung menyambung. Latar belakang tempat duduk pengantin diletakkan kelambu berlapis (kulambu balapih) bisa: 3, 5, atau 7 lapis. Banta gadang dari kain bersulam sebanyak 2 buah mengapit pengantin. Di samping tempat duduk pengantin ada semacam bingkai disebut pancung atau galung (galuang): yaitu berbentuk lengkungan mirip gapura, yang menandakan perhelatan kaum bangsawan. Galuuang ini dilapisi kain jalin beberapa warna dan pada sisi-sisinya dilengkapi tonggak bamboo berlapis: kain tonggak katorok atau labu-labu atau usus-usus. Konon menurut para orang tua minangkabau, kain jalin ini melambangkan suatu ikatan atau jalinan antara kedua keluarga besar agar hubungan harmonis.

Karena bentuk pelaminan ini cukup luwes, jadi pelaminan dapat disesuaikan dengan bentuk rumah yang berhajat, karena panel yang dipasang, bisa diatur sepanjang dinding ruang, dengan tujuan memberi suasana yang lain (pesta). Kain yang dipersiapkan memiliki ukuran standar, yaitu setinggi dinding ruang dalam atau sekitar 3 meter, ukuran panjang kain dapat disambung kearah lebarnya dan tidak dibatasi, untuk keperluan menutupi panjang dinding rumah. Suasana pesta berlangsung akrab dan meriah dalam kekeluargaan yang saling mengenal antara keluarga anak daro dan marapulai. Duduk berdampingan, berbincang dan bercanda dalam hubungan yang baru dibina.

Tampak sekali di sini harapan dari perkawinan dan hubungan antar kedua keluarga dalam ikatan sosial yang akrab dan selaras, semua ungkapan dan perlambangan dari tiap bentuk dan warna yang tampil dalam wujud pelaminan. Terdapat bukti antara perlambangan dengan kenyataan  yang berlangsung, bahwa unsur dalam pelaminan memang dalam kehidupan nyata diwujudkan betul dan sangat kental terasa. Pada masa sekarang ini, banyak sekali yang mengalami perubahan yang sangat sulit untuk dihindari, karena situasi juga telah berubah. Mulai dari tatanan masyarakat secara umum, situasi ekonomi, sosial bahkan sampai pada kebudayaan manusia yang mengalami perubahan bentuk. Hal ini adalah sesuatu yang wajar terjadi, dan tak mungkin dihindari sehingga apapun bentuk perubahan tersebur tentunya berdampak pula pada berbagai keadaan, termasuk dalam budaya dan adat istiadat masyarakat minangkabau.

Unsur-unsur dasar pelaminan

Dalam pelaminan unsur  yang membentuknya disebut:

  • Latar penutup atau tabir (tabie): tabir ini berupa panel dari kain bersulam, umumnya berwarna merah dan hitam dengan sulaman benang emas. Kain tabir ini juga bisa berwarna kuning dan biru berselang seling. Kain yang sering digunakan untuk tabir ini adalah kain satin yang memiliki kilau mirip sutera. Ragam hias yang terdapat pada tabir flora dan fauna aatau ada juga ragam geometris pada bagian tepi. Kain tabir ada yang berwarna tunggal atau terdiri dari kain aneka warna yang dijahit selang-seling. Sesuai dengan namanya, kain tabir ini menutupi sebagian besar dinding, sekaligus menjadi latar dan berfungsi memberi suasana pesta pada ruang.
  • Layang-layang atau langik-Langik ada sebagian orang menyebut dengan layang-layang atau langik-langik, tapi keduanya sama. Bagian ini adalah kain yang membentang secara horizontal di atas, setinggi 2,5 meter dari lantai, membentuk mirip langit-langit rumah. Ukuran bagian ini sekitar, panjang 2,5 meter dan lebar 2 meter, juga terbuat dari kain, dan dipasang dengan cara mengantungkannya memakai tali yang dibentang. Selain dibentang, bagian ini juga dapat berdiri dengan bantuan rangka pada bagian dalam, sehingga tidak tampak tali temali pembantu. Pada bagian ini ragam hias jarang digunakan, umumnya kain berbentuk persegi dengan bagian pinggir (bingkai) terdiri dari warna lain dengan bagian tengahnya. Hiasan berupa sulam emas hanya terdapat pada tepi langik-langik, berupa border. Langik-langik ini berfungsi sebagai tempat mainan angkin bergantung, angkin adalah kain berbentuk segi lima dengan dua sisi tepi yang panjang (mirip dasi) berhias sulaman. Angkin berwarna warni dan jumlahnya banyak.
  • Kelambu atau kulambu balapih; berupa kain serupa tirai yang disingkapkan pada kedua sisinya. Kelambu ini berlapis-lapis jumlahnya bervariasi antara 3,5 sampai 7 lapis, berada tepat di tengah, di bawah langik-langik. Kelambu terbuat dari kain bersulam flora dan fauna dari benang emas, warna kain beraneka ragam tiap lapis berbeda. Tiap tirai disingkapkan memakai pengait tirai (tassel) terbuat dari kain yang sama. Di latar belakang tirai ini, ditengahnya biasa ditempatkan banta kopek, yaitu bentuk bantal hias berwarna warni beberapa buah dan disusun bertumpuk. Tidak ada hiasan pad banta kopek, hanya kain polos aneka warna untuk membungkus.
  • Banta gadang, berbentuk mirip rumah dari kain bersulam, memiliki rangka didalamnnya untuk menunjangnya. Tempat banta gadang adalah di sisi kiri dan kanan kursi pengantin.
  • Galang dan kain jalin, galuang adalah suatu bentuk lingkungan setengah lingkaran yang berada di depan kelambu. Pada jenis lain ada galuang yang tidak berbentuk setengah lingkaran, tapi berupa dua tiang lurus saja. Pada galaugn ini dililitkan kain, dan disebut kain jalin, karena memang dijalinkan bergantian dari 3 lembar kain. Kain jalin ini ada yang memakai 3 warna atau kurang.

Berikut ini menunjukkan lebih jelas bentuk pelaminan lama yang belum banyak mengalami perubahan, baik dari bentuk dasar, warna yang dipergunakan, maupun ornament yang ditampilkan, bentuknya masih mengacu pada bentuk pelaminan yang lebih tua lagi (sekitar tahun 1960), yaitu dalam bentuk persegi dan datar. Warna yang dominan adalah merah, hitam dan kuning seperti warna pada lambing minangkabau, dengan beberapa tambahan sebagai aksen. Dan ornament yang dipakai sebagai sulaman pada tabie adalah buket flora dan fauna serta ukuran pelaminan sekitar 6×3 meter (pakem) melainkan berupa kebiasaan yang lazim digunakan.

Ketentuan yang lebih ketat mengenai penggunaan kain dan busana tertentu hanya dalam upacara pengangkatan penghulu, sedangkan untuk perkawinan tak ada ketentuan khusus. Hal ini telah memungkinkan pelaminan mengalami pengembangan bentuk yang lebih leluasa, bila dirasa perlu. Suatu ketentuan mengenai pedoman yang dapat dipegang untuk mengadakan perubahan adalah

Condong mato ka nan rancak

Condong salero ka nan lamak

Rancak di awak

Katuju di urang (basir, 1997:x)


Pengertian dari ketentuan di atas ialah bahwa mata atau penglihatan selalu melihat yang bagus, dan selera makan pasti akan memilih yang enak. Sesuatu yang baik bagi kita, tetapi juga disenangi dan cocok bagi orang lain. Cocok bagi diri sendiri dan cocok bagi orang lain. Suatu ukuran yang jelas tak ada patokan jelas seperti apakah cocok itu? berdasarkan perubahan jaman, selera dan kecendrungan orang akan merubah terus mengikuti jalannya jaman. Sejalan dengan ini perkembangan selera atau ideal artistik, yang akan berubah terus karena sifat manusia yang dinamis. Faktor luar yang mendorong lahirnya nilai ideal artistik baru jumlahnya cukup banyak dan tidak sealu sama. Hal ini yang juga menjadikan ukuran atau patokan pasti tentang selera tak dapat dibuat.

Referensi

Arleti M.Apin, Pergeseran desain pelaminan minangkabau, Program magister desain, ITB, 2002.

Temukan informasi lainnya mengenai Minang, Padang, Sumatera Barat, perkawinan adat minangkabau, Foto Pengantin, Foto Prewedding, Photo Pernikahan, Fotografi Pernikahan, Photo Wedding, Fotografi Wedding, Foto Pernikahan, Foto Wedding, Photo Pernikahan & Fotografi Wedding, foto perkawinan, wedding photo, paket foto, fotografer pernikahan, wedding photographer, pre wedding photographer, Minang Wedding, Pre Wedding photography & Wedding Party photography Padang – Sumbar, Padang wedding, Wedding Gallery & Event Organizer, Pre Wedding Photography, pre wedding, pre wedding photographer, pre wedding photography, wedding vendors, Pre Wedding Photography, Pre Wedding Foto, Foto Pra Nikah Foto, Paket Wedding, hasil foto, bentuk foto, ukuran foto, photo pre wedding, foto wisuda, foto keluarga, foto seminar, foto produk di…

Wen’S Photography
Digital Photo Studio & Video Shooting
Jl. Gajah Mada No.30 Gunung Pangilun Padang
Hp 08126764527, Telp 07519901204

http://minangphotographer.wordpress.com/
http://minangdigitalphotography.blogspot.com