18
May
10

Kajian Budaya Rupa terhadap Benda Upacara Adat Carano pada Masyarakat Minangkabau

Masyarakat minangkabau memperingati peristiwa-peristiwa penting dengan upacara adat. Peristiwa-peristiwa yang diperingati dengan upacara adat adalah, batagak penghulu, sidang musyawarah pemuka-pemuka adat, upacara adat perkawinan dan upacara adat lainnya. Upacara adat dilakukan sesuai dengan ketentuan-ketentuan adat yang selalu memiliki perlengkapan-perlengkapan, salah satu perlengkapan yang selalu hadir dalam upacara adat disebut carano.

Carano merupakan wadah diisi dengan kelengkapan sirih, pinang, gambir, dan kapur sirih, serta dulamak atau kain penutup carano. Keberadaan carano dan kelengkapannya dalam upacara adat sangat penting sekali. Tanpa menggunakan carano dan kelengkapannya tersebut, maka upacara adat belum dapat dilaksanakan. Carano memiliki makna yang khusus dalam upacara adat, yaitu keindahan carano, bentuk, motif-motif ukirannya, serta kelengkapan carano, disanjung dengan kata-kata perumpamaan yang disampaikan oleh orang-orang tertentu.

Carano dan kelengkapannya, memiliki makna yang kompleks dalam budaya masyarakat minangkabau. Di dalammnya terkandung berbagai makna yang erat kaitannya dengan ajaran-ajaran dan falsafah adat yang bersendikan kepada syariat islam. Dalam sidang musyawarah pengukuhan panghulu, carano melambangkan kekuatan kata mufakat yang dihasilkan melalui musyawarah, dan disahkan dengan carano. Begitu juga dalam adat perkawinan, carano mencerminkan kemuliaan bagi kaum wanita, ia merupakan lambang kekerabatan di minangkabau.

Bentuk dan kelengkapan carano memiliki perlambangan yang erat hubungannya dengan falsafah adat minangkabau. Makna yang tersimpan dalam kelengkapan carano merupakan simbol komunikasi dalam masyarakat yang sesuai dengan ajaran adat. Makna bentuk carano merupakan simbol falsafah adat alam takambang jadi guru bagi masyarakat minangkabau, yang berlandaskan syariat islam.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa carano adalah lambang adat minangkabau, ia merupakan himpunan pokok-pokok pikirran yang dilekatkan ke dalam simbol-simbol yang terdapat dalam carano.

Carano salah satu benda upacara pada umumnya selalu digunakan dalam upacara adat. Carano memiliki bentuk yang khas yang sejak dahulu sampai sekarang bentuk carano tidak pernah berubah. Carano terdiri dari bahan logam yang memiliki warna kemasan dan memiliki motif-motif hiasan.

Kemudian carano memiliki motif-motif tertentu yang berbentuk stilasi flora dan fauna. Disamping itu carano mempunyai kelengkapan sirih, pinang, gambir dan kapur serta kelengkapan lainnya seperti tembakau sugi dan dalamak. Dalam upacara adat makna yang terkandung dalam carano disebutkan dengan pepatah-petitih. Dalam pidato-pidato persembahan upacara adat, petatah-petitih tentang carano dan kelengkapannya diucapkan dalam pidato persembahan adat. Dalam pidato persembahan tersebut seluruh yang berhubungan dengan carano seperti bentuknya, motif-motif dan kelengkapannya yang terdapat dalam carano, serta makna lainnya diungkapkan dengan kata-kata kiasan dan kata perumpamaan.

Penggunaan carano dalam upacara melihat kepada jenis upacara dan sistem peresmian upacara tersebut. Dalam upacara adat Batagak Pangulu keberadaan carano mutlak, maksudnya cerano tidak bisa ditukar dengan benda yang lain. Tetapi dalam upacara adat lainnya seperti perkawinan, cerano dihadirkan melihat tingkatan sistem peresmian upacaranya. Seperti yang dijelaskan diatas bahwa sebuah upacara jika peresmiannya dengan mengundang seluruh masayarakat dengan menyemblih kerbau atau kambing maka carano harus dihadirkan. Namun demikian seandainya carano tidak ditemukan misanya maka ada ketentuan adat, bahwa carano boleh ditukar dengan wadah lain namun sirih dan kelengkapannya tidak boleh ditukar dengan yang lain. Menyikapi hal yang demikian sesungguhnya untuk melakukan hal yang seperti ini harus disepakati terlebih dahulu oleh pemuka adat. Dalam masyarakat minangkabau ada beberapa upacara adat pelaksananya berlaku menurut keadanaan dan tempat, begitu juga cara pemakaian carano disesuaikan dengan upacara yang diadakan.

Pemakaian carano dan kelengkapannya berfungsi sebagai lambang persembahan untuk memberikan suatu kehormatan dalam upacara adat, yaitu merupakan alat berkomunikasi dengan masyarakat pengunjung atau tamu-tamu yang datang dalam upacara adat. Setiap upacara adat di minangkabau tamu akan dihormati dengan menyuguhkan sirih pinang yang diletakkan dalam carano, melakukan hal yang seperti ini berarti telah melaksanakan adat. Begitu juga isi atau kelangkapan carano, seperti sirih, pinang, gambir, kapur sirih dan tembakau.

Dalam upacara adat pidato persembahan carano dengan kelengkapannya ini diungkapkan di hadapan orang-orang yang hadir dalam upacara adat. Kemudian carano yang berisikan sirih pinang itu mintak dicipi kepada tamu-tamu. Pada saat menyuguhkan sirih pinang kepada tamu disampaikan pula sebuah pepatah: “Tantangan carano nan katangah, siriahnyo mintak dicabiak, pinangnyo mintak digatok”. Semua ini dilakukan apabila pembicaraan akan dimulai. Keberadaan carano pada upacara adat suatu hal yang menentukan, tanpa ada carano bisa saja suatu acara adat belum dapat dilangsungkan.

Motif-motif yang terdapat dalam carano sesunguhnya erat hubungannya dengan motif yang terdapat dalam rumah gadang, sebagaimana yang telah dijelaskan bahwa rumah gadang adalah merupakan sumber dari segala motif ukiran yang terdapat di minangkabau

Carano merupakan sebuah wadah khusus yang berfungsi sebagai benda upacara adat yang digunakan oleh masyarakat minangkabau. Keberadaan carano dalam berbagai bentuk upacara adat merupakan sesuatu yang mutlak. Carano merupakan tanda bukti bagi keabsahan sebuah upacara. Jika sebuah upacara dilakukan tanpa menggunakan carano sebagai salah satu benda upacara, maka upacara yang dilaksanakan tersebut belumlah sempurna. Bisa jadi upacara yang dilaksanakan tanpa menggunakan carano dapat dianggap tidak syah. Dengan demikian carano adalah benda yang melambangkan adat minangkabau. Lambang ini memiliki simbol-simbol yang memperlihatakan adat-istiadat. Keberadaan carano  mengandung pokok-pokok pikiran dan ilmu pengetahuan orang minangkabau dalam menyesuaikan kehidupannya dengan perkembangan zaman.

Masyarakat minangkabau dalam menciptakan bentuk carano tidak pernah berubah sampai sekarang. Bahwa dalam bentuk struktur carano terdapat makna-makna. Ungkapan dari bentuk struktur carano erat sekali hubungannya dengan falsafah adat minagkabau. Carano merupakan benda yang mencerminkan budaya masyarakat minangkabau. Sehingga kemudian, carano dijadikan sebagai simbol bagi falsafah adat minangkabau. Bagi masyarakat minangkabau bentuk carano yang seperti ini mempunyai nilai-nilai yang khusus, sebab bentuk carano ini sudah merupakan kesimpulan dari pokok-pokok pikiran yang dituangkan ke dalam adat minangkabau.

Sebagai sebuah benda upacara adat, carano memiliki latar belakang sejarah yang cukup panjang. Carano merupakan sebuah benda pusaka bagi masyarakat minangkabau. Carano erat hubungannya dengan falsafah adat dan sejarah keberadaan masyarakat minangkabau. Oleh karena itu carano yang dilengkapi dengan siriah pinang langkok, serta dulamak, mengandung makna-makna yang erat kaitannya dengan jalan fikiran serta prilaku masyarakat minangkabau. Carano dan kelengkapan berupa siriah pinang langkok, serta dulamak, merupakan kesatuan yang tidak bias dipisahkan. Sehingga dalam setiap upacara adat, sebuah carano baru dapat berfungsi apabila ia telah berdiri dalam sebuah kesatuan yang utuh, yaitu carano, siriah pinang langkok dan dulamak. Dengan adanya kelengkapan yang utuh ini, barulah kemudian sebuah upacara adat dapat dilaksanakan.

Motif-motif yang terdapat dalam carano erat hubungannya dengan makna yang tersimpan dalam carano. Motif-motif yang melekat dalam carano merupakan nilai-nilai dan norma-norma bagi masyarakat minangkabau. Motif carano diciptakan sedemikian rupa dengan mencontoh bentuk-bentuk yang terdapat di alam seperti flora dan fauna. Dasar dari bentuk motif ini sesungnguhnya memberikan konsep dan pikiran bahwa motif yang diciptakan ini membawa pesan berupa ajaran-ajaran dalam kehidupan. Sebelum mereka menciptakan motif yang seperti ini sesungguhnya masyarakat minangkabau terlebih dahulu menghayati kehidupan tumbuh-tumbuhan atau alam lingkungannya. Dari hasil penghayatan tersebut muncullah pikiran-pikiran bahwa semua yang ada di alam ini mempunyai tata acara yang bisa dijadikan contoh. Dasar ini merupakan tempat berpijak bagi mereka untuk mulai menghayati dan  mengambil hikmahnya untuk masa-masa yang akan datang. Sehingga keluarlah pepatah-petitih yang mengatakan untuk melihat dan mencontoh bagaimana kehidupan alam. Pepatah petitih ini kemudian disampaikan dengan bahasa rupa sehingga mereka menciptakan motif-motif hiasan yang dicontoh dari alam dan bentuk motif yang menyerupai ala mini baik flora atau fauna, bukanlah hanya sekedar mencontoh saja tetapi menghayati dan meniru apa pesan yang tedapat ddidalamnya. Hasil penghayata tersebut dapat menjadi acuan bagi mereka untuk menjalin hubungan dengan seluruh masyarakat dilingkungan sendiri, begitu juga sebagai penuntun hubungan dengan masyarakat luas dari luar masyarakat di minangkabau.

Warna carano menyerupai kuning keemasan walaupun carano ini bukan terbuat dari emas. Sesungguhnya warna keemasan ini mempunyai makna yang dalam bagi masyarakat minangkabau. Sebagaimana sudah diketahui bahwa carano terdiri dari beberapa jenis logam. Bahan-bahan tersebut dipadukan sehingga memancarkan warna kuning keemasan. Warna kemasan ini adalah melambangkan pikiran-pikiran yang telah teruji kebenarannya. Begitu juga dari keragaman jenis logam sebagai bahan, carano akan memiliki kekuatan daya tahan dari polusi alam. Dari dasar pemikiran tersebut masyarakat minangkabau menganggap bahwa bahan warna yang demikian memperlihatkan keteguhan seorang pemimpin dalam masyarakat minangkabau.

Dan sekarang carano dibuat menyerupai warna keemasan. Untuk mendapatkan warna keemasan tersebut carano dibuat dari bahan campuran logam yang dipadukan sehingga memyerupai emas baik dari warnanya maupun dari bahannya. Campuran dari berbagai logam ini juga memiliki maksud dan tujuan tertentu dalam kehidupan masyarakat minangkabau. Emas memang merupakan logam yang paling mulia namun dari kesempatan untuk mendapatkan emas ini lebih sulit dari bahan yang  lain disamping harganya sangat mahal. Begitu juga untuk menjaga keselamatan dan pemeliharaan harus lebih berhati-hati karena emas ini kadang-kadang dapat mendatangkan niat yang salah bagi orang yang melihatnya bahkan ada godaan untuk dapat memiiliki walaupun itu bukan hak bagi yang ingin mendapatkannya.

Bentuk carano terdiri dari dua bagian, yaitu bagian atas dan bagian bawah. Kedua bagian ini  bisa dibuka atau dipisahkan. Jadi pada dasarnya carano minangkabau dapat dibuka, atau dipisahkan antara bagian atas dan bagian bawah. Kedua bagian carano tersebut merupakan simbol dari lak-laki dan perempuan. Simbol ini diungkapkan dengan struktur yang terdapat pada carano, yaitu struktur bawah dan struktur atas. Makna struktur atas dan struktur bawah merupakan lambang kesuburan. Dengan demikian bentuk carano memiliki makna sebagai sumber kehidupan.

Sirih merupakan simbol wanita, sedangkan pinang adalah simbol laki-laki. Sirih dan pinang sama-sama memiliki khasiat bagi kaum wanita dan kaum laki-laki. Sirih dan pinang berfungsi sebagai obat, oleh karena itu sirih pinang langkok dianggap sebagai sebuah simbol yang memiliki makna sakral. Siriah pinang langkok memiliki makna sebagai lambang kesuburan.

Carano juga merupakan simbol dari dua orang filsuf minangkabau, yaitu Datuak Ketumanggungan dan Datuak Parpatiah nan Sabatang.  Kedua orang ini disimbolkan oleh dua struktur yang terdapat pada carano. Struktur bawah merupakan simbol dari Datuak Ketumanggungan, merupakan simbol dari dasar-dasar ajaran adat minangkabau. Disamping itu ia merupakan lambang  dari sistem pemerintahan yang dianut oleh Datuak Ketumanggungan. Sebuah sistem otokrasi, nan titiak dari ateh, atau yang titik dari atas. Sebuah sistem pemerintahan berlandaskan kepada kesepakatan para pemimpin. Sistem kepemimpinan ini dikembangkan oleh Datuak Ketamanggungan dalam keselarasan suku Koto Piliang.

Sedangkan struktur atas merupakan simbol dari Datuak Parpatiah nan Sabatang, ia merupakan simbol dari sebuah demokrasi, nan mambasuiak dari bumi, atau yang membersit dari bumi. Ajaran adat ini dikembangkan oleh datuak parpatiah nan sabatang dalam keselarasan suku bodi caniago.

Carano juga merupakan simbol dari alam pikiran, ia merupakan simbol dari falsafah adat Minangkabau yaitu alam takambang jadi guru. Alam merupakan sumber inspirasi dalam prilaku masyarakat. Alam yang selalu bergerak dalam sebuah sistem yang tetap merupakan guru bagi kelangsungan hidup manusia. Prinsip alam inilah kemudian yang dikembangkan oleh dua orang filsuf Minangkabau yaitu Datuak Ketuanggungan dan datuak Parpatiah nan Sabatang.

Sirih pinang langkok juga memiliki mamgandung makna sosial, ia berfungsi sebagai media komunikasi. Siriah pinang langkok merupakan media komunikasi rahasia, ia digunakan untuk menyampaikan berbagai keinginan-keinginan yang tidak mungkin disampaikan secara terang-terangan. Oleh karena itu untuk menyampaikan keinginan tersebut digunakanlah siriah langkok sebagai alat komunikasi. Siriah pinang langkok berisi pesan-pesan tertentu yang erat kaitannya dengan upacara adat. Diterima atau tidaknya sebuah pinangan atau lamaran dalam sebuah upacara adat meminang ditentukan oleh siriah pinang langkok yang diletakkan dalam carano.

Siriah pinang langkok juuga merupakan simbol tanda hasil keputusan dan kesepakatan. Dalam adat minangkabau semuanya itu disebut dengan kata mufakat. Jadi siriah pinang langkok memiliki makna kata mufakat, yaitu berbagai permasalahan yang telah dirembukkan secara bersama-sama kemudian dikukuhkan dengan sirih pinang langkok.

Dulamak memberikan makna bahwa segala sesuatunya memiliki tata cara atau etika. Dalam adat minangkabau berbagai keputusan yang terdapat dalam musyawarah dapat dijadikan sebuah keputusan yang baik. Karena ia diputuskan secara bersama antar orang-orang yang cerdik lagi cendikian atau cadiak pandai. Berbagai keputusan tersebut sudah merupakan kata mufakat. Untuk menghindari berbagai syak wasangka yang timbul oleh kata mufakat tersebut, maka semua keputusan tersebut disampaikan dengan siriah pinang yang tertutup oleh dulamak.

Sebagai sebuah benda upacara yang memiliki nilai estetis. Carano merupakan ungkapan dari falsafah adat, ia juga merupakan lambang kesuburan, oleh karena itu cerano memiliki bentuk yang kokoh, karena pada bagian bawah memiliki tapak dalam bentuk mendatar, sehingga cerano dapat berdiri dengan kokoh. Dengan struktur bentuk yang dimiliki carano kemudian dilengkapi dengan beberapa motif hias, yang diukirkan pada bagian carano, memiliki nilai estetis yang monumental. Carano memiliki warna kuning keemasan memiliki makna yang tersediri bagi masyarakat minangkabau warna tersebut memperlihatkan keagungan memiliki kharisma bagi orang yang memandangnya

Siriah pinang langkok sebagai sebuah media komunikasi memiliki pula niai estetis, terutama jika dilihat dari sisi komunikasinya. Ia memiliki nilai etika dalam berkomunikasi dan memiliki nilai estetika dalam hal cara penyampaian keinginan. Keinginan-keinginan tersebut dikemas dalam sebuah bahasa rupa yaitu siriah pinang langkok. Sehingga secara halus komunikasi tersebut dapat berjalan dengan baik. Keindahan komunikasinya terletak dalam adat sopan santun tanpa menyinggung atau merusak perasaan orang-orang yang terlibat didalamnya.

Dulamak merupakan bagian dari kelengkapan carano. Ia berfungsi sebagai penutup siriah pinang langkok yang ada dalam carano. Ia berfungsi sebagai penutup siriah pinang langkok yang ada dalam carano. Sebagai sebuah kelengkapan carano, dulamak juga memiliki makna estetis. Ia merupakan simbol dari perwujudan kehalusan budi dalam berkomunikasi. Bahwa sesuatu yang panting dan rahasia dalam berbagai masalah hendaklah ditutup agar tidak mendatangkan hal-hal yang merugikan dan terlalu berkelebihan.

Referensi:

Zubaidah, Kajian Budaya Rupa terhadap Benda Upacara Adat Carano pada Masyarakat Minangkabau, Thesis, Program Magister  Seni Murni, Program Pascasarjana, ITB, 2001.

Temukan informasi lainnya mengenai Minang, Padang, Sumatera Barat, perkawinan adat minangkabau, Foto Pengantin, Foto Prewedding, Photo Pernikahan, Fotografi Pernikahan, Photo Wedding, Fotografi Wedding, Foto Pernikahan, Foto Wedding, Photo Pernikahan & Fotografi Wedding, foto perkawinan, wedding photo, paket foto, fotografer pernikahan, wedding photographer, pre wedding photographer, Minang Wedding, Pre Wedding photography & Wedding Party photography Padang – Sumbar, Padang wedding, Wedding Gallery & Event Organizer, Pre Wedding Photography, pre wedding, pre wedding photographer, pre wedding photography, wedding vendors, Pre Wedding Photography, Pre Wedding Foto, Foto Pra Nikah Foto, Paket Wedding, hasil foto, bentuk foto, ukuran foto, photo pre wedding, foto wisuda, foto keluarga, foto seminar, foto produk di…

Wen’S Photography
Digital Photo Studio & Video Shooting
Jl. Gajah Mada No.30 Gunung Pangilun Padang
Hp 08126764527, Telp 07519901204

http://minangphotographer.wordpress.com/
http://minangdigitalphotography.blogspot.com

https://wensphotography.wordpress.com/

Advertisements

0 Responses to “Kajian Budaya Rupa terhadap Benda Upacara Adat Carano pada Masyarakat Minangkabau”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: